Tuesday, February 24, 2015

The Knot






Idea: Dari Langit
Penulis: Dazz



Menarik helaan nafas setelah larian yang panjang itu Nikmat.

Bibir ditarik senyum. ‘Illahi…’ Tiada kata yang mampu mengungkap rasa didada. Dan tiada rasa setenang air mata yang mengalir saat luka yang terguris makin carik hari ke hari.

Sesi yang baru berlabuh menghantar desakan larian dibenak. Bukan untuk menjatuh hukum; siapa yang betul dan salah. Hanya untuk menggali apa yang dinamakan pelajaran, moga boleh dicerna sang hati saat kaki tergelincir dari landasanNya.

Penat mengukir senyuman, tetap air mata membasahi pipi. ‘Payahnya hati ini Tuhan…’ Belakang tapak tangan dibawa ke pipi, menyapu air mata yang masih lagi tersisa. Kesisi tingkap dirapati. Tangan menongkat dagu, melabuh pandang dilangit yang kelam.

“Lelaki; sering membuat aku lelah dijejak hari.”

Mata yang terpaku didada langit masih terasa suam ditemani air mata.

“Berkali aku cuba dakap mereka erat dihati Rabbi, membawa kehadiran mereka bermakna dihari, dan setiap kali itulah hati ini carik terluka..”

Tika putaran minda berlabuh disaat yang telah menjadi kenangan, sendu tak lagi tinggal diam.

“Ayah, satu satunya lelaki yang ku dakap ke hati. Ketika dunia meyaksi hinanya aku dalam takdir yang melontar aku sepi, hanya dia teguh berdiri dihariku, mengenalkan aku erti hidup. Dan kini, saat dia khilaf banyak kata yang menghujan dia salah, dan makin laju kaki kaki yang berlari meninggalkan dia menjauh…”

“Ibu, wanita yang hanya satu tiada ganti. Walau kisah kita tiada yang manis untuk dipotretkan sebagai memori, aku tahu jalanmu tak selalu indah untuk kau berdiri saat ini..”

Sendu kian sepi. Terpujuk dek indahnya sang angin yang berpuput damai.

Maafkan aku Ibu, bukan kerana aku kasih pada Ayah melebihi kasih ku kepadamu. Walau apa yang kau beri padaku tak indah untuk dikenang, aku disini hari ini kerana mu Ibu. ‘Sungguh tak kan aku mampu berdiri teguh saat ini tanpa mu Ibu..’ Ku tahu kau cemburu saat Ayah khilaf pada mu tetap aku terdiam tika mendengar cerita sakitnya luka dihatimu. Dan ku tahu kau marah saat aku tetap menyambut Ayah bagai aku tak terkesan dengan sakitnya cerita luka mu…

Duhai Ibu ku..
Mana mungkin hati ini tak terguris
Saat mata ini melihat kau diperlaku
Kerana aku jua wanita
Yang rapuh..

Duhai Ibu ku..
Sedalam luka mu kerana Ayah
Aku jua terluka
Tika hanya pada Ayah
Aku memujuk rasa
Untuk mejahit luka yang carik kerana lelaki

Duhai Ibu ku..
Saat aku bersendiri
Hanya tangis yang mampu aku luahkan
Untuk luka mu
Untuk luka ku
Moga Dia mendengar
Dan mendakap hati kita
Agar kita belajar
Melagukan lagu redha

Duhai Ibu ku..
Maafkan aku
Saat aku tak mampu
Mengurangkan sakit dihatimu..

Duhai Ibu ku
Saat aku memandang raut Ayah
Hatiku bagai disiram
Tenangnya sang salju
Membawa aku
Kembali melewati hari hari ku
Dimana hanya Ayah yang menghulur
Saat aku jatuh tanpa indahnya suara sang tangis
Menjadikan aku pahlawan dimedan kehidupan
Tika setiap kali aku tersungkur
Aku harus kembali bangkit
Untuk janji yang aku patri dengan Dia sebagai saksi
Untuk titis air mata ayah yang jatuh ke pipiku
Saat aku menyerah kalah
Kerana sakitnya ajal yang singgah

Duhai Ibu ku
Pandanglah Ayah dengan hati mu
Walau dia sering khilaf
Hanya dia lelaki yang teguh disisi mu
Saat kau diuji dengan teriknya sakit yang tiada henti
Dan dia tetap berdiri tabah
Menerima mu sabar
Tika dia punya pilihan
Untuk memilih
Dan meninggalkan mu..

Duhai Ibu ku
Untuk saat ini
Teguhlah untuk Ayah
Walau ku tahu peritnya rasa mu
Percayalah
Ayah perlukan mu saat ini
Kerana ketabahan mu Ibu
Adalah segala galanya untuknya…

Duhai Ibu ku
Aku masih hijau meniti kehidupan ini
Dan aku masih terlalu mentah
Untuk menghurai makna cinta
Yang banyak menyaksi
Aku kecundang di lautan air mata
Dan saat aku melabuh pandangan pada mu dan Ayah
Aku berharap ada potret untuk ku dakap
Yang akan membuatkan aku tersenyum
Saat hatiku basah
Dan akan ku lagukan melodi
Memujuk hati
‘Cinta itu sebuah perjuangan yang indah…’

Duhai Ibu ku
Berlari dijalan yang bernama kehidupan
Aku disapa oleh salam dari sang cinta
Dan aku jua seperti mu
Menjadikan ego benteng
Agar hati tak terluka
Saat aku terlalu takut
Pada kata yang bernama cinta
Tika aku sering dibentangkan
Pada ‘kehilangan’
Yang membuatkan aku terhempas
Saat mereka pergi dariku

Duhai Ibu ku
Tika ini
Aku mengerti
Cinta itu terlalu indah
Buat hati yang menyakini Dia
Disetiap nafas dan takdir yang terjadi
Menanam mati takut pada yang tak pasti
Tika semalam adalah peta
Yang memandu jalanan hari ini
Menuju Dia

Duhai Ibu ku
Sungguh ego yang dibenteng
Hanya mencampakkan kita menjauh
Jauh dari Dia
Jauh dari indahnya cinta
Saat ianya hanya ilusi
Yang kita karang sendiri
Kononnya agar tak terluka
Saat hakikat cinta itu
Bukan hanya tawa

Duhai Ibu ku
Ku tahu tak mudah
Sebagaimana aku
Yang sering tersungkur
Dalam mencari Dia
Berlarilah Ibu ku
Walau hati mu penuh luka
Kerana ada Dia yang menyaksi
Segala kasih dan air mata mu
Tika hanya Dia
Yang mampu menyapu air mata mu
Menggantikannya dengan tawa
Yang akan mengusir jauh
Luka yang pernah singgah diharimu

Duhai Ibu ku
Tiada yang indah didunia ini
Melainkan hanya denganNya
Saat hati yang bingung kelam
Hanya Dia yang mampu
Mengusir bingung itu menjadi tenang
Dan saat air mata bagaikan tak berpenghujung
Hanya Dia yang mampu
Mengukirkan senyuman ditengah lebatnya  basah dipipi
Itulah cinta Agung Tuhan yang menciptakan kita Ibu…

Duhai Ibu ku
Dan Ayah jua manusia
Yang sering khilaf
Dan dia dah terlalu lama
Menjadi benteng untuk kita berpaut
Hingga saat kita berdiri hari ini
Tersenyum dalam tawa
Menjalani hari bagai tiada apa
Dan kejamnya kita
Saat dia mengguris hati kita
Dia pantas kita jatuh salah
Bagai dia tak pernah berjasa
Bagai dia tak pernah ada
Di tenatnya hari yang kita tempuhi

Duhai Ibu ku
Maafkan aku
Saat aku tak mampu memujuk hatimu
Walau hanya sekadar mengiakan kata mu
Kerana aku terlalu sayang dia
Yang sabar mendidik aku
Menjadi pahlawan tabah
Di medan yang bernama kehidupan

Duhai Ibu ku
Hanya doa
Yang mampu aku titipkan
Moga Dia melorongkan mu
Sebagaimana Dia memimpin ku
Menjadi sebenarnya hamba
Hanya pada Dia
Tuhan Yang Menciptakan

Duhai Ibu ku
Memandang raut mu
Sering aku tertanya
Akan kah aku berdiri tabah seperti mu?

Doakan anak mu ini Ibu
Moga aku lah
Yang menuntun mu diSana nanti...




Duhai Kekasih ku untuk luka dihati Ibu, kau siramlah dengan Agungnya CintaMu kerana ku tahu betapa CintaMu memaknakan aku dalam nadi hamba, menghantar kerdilnya diri yang penuh hina dalam khilaf dan noda dosa yang aku lakari hari hariku. Hanya padaMu Tuhan ku sandarkan harapan ku. Moga Kau paut hati Ibu sebagaimana Kau pegang erat hatiku padaMu…







©Dazz

No comments:

Post a Comment