Monday, February 23, 2015

Antara Garisan





Idea: Dari Langit
Penulis: Dazz



Anehnya rasa yang bernama cinta berulang kali membuatkan akal tumpas pada yang bernama air mata. Ketika kaki yang teguh melangkah disapa rindu yang datang tanpa ketukan salam, larian seakan sumbang. Bukan kerana lemah, namun kerana rasa rindu itu datang bersulam dengan salam cintaNya. Melontar aku pada hakikat seorang hamba. Membawa aku melabuh sejenak, menghantar syukur walau hanya pada setitis air mata.

Melewati garis kehidupan yang masih lagi hijau, sejujurnya hati terlalu takut saat kata cinta melewati hari. Dan aku hanya mampu terdiam disudut hari, mengharap Kau ada mengemudi langkah kaki.

Tuhan, rapuhnya aku membaja cinta yang Kau pinjamkan, banyak hati telah aku gurisi. Takutnya aku untuk melewati hariMu menebar indahnya sebuah kata yang bernama cinta menyaksikan berulang kali aku rebah pada luka yang sama. Ketika aku merasakan cinta itu terlalu menyakitkan untuk aku dakap ke hati, Kau menyapa aku dengan hakikat cintaMu; tidak melemahkan, tapi membangkitkan kekuatan. Dan saat ini, walau air mata bagaikan teman akrab sang pipi, betapa aku insan kerdil mengagumi indahnya CintaMu yang Kau petakan untukku..

Walau berulang kali aku jatuh, aku kan tetap bangkit bagaikan semalam hanyalah hembusan angin yang membuatkan aku lelah seketika sebelum kembali bangun menyambung langkah. Dan itulah anehnya cintaMu Illahi. Kau membiarkan aku meniti hari dalam bingung yang aku sendiri tak mengerti. Dan saat larianku makin menjauh dari landasanMu, Kau nokthkan langkahku sejenak, menghantar kosong dihati sebelum Kau ganti dengan cintaMu yang abadi. Maha Agung Cinta Mu Rabbi…

Tika aku hanya manusia biasa yang mejejaki hari bersama alpa dihati, sungguh terlalu jauh aku melupakan Mu Rabbi…

Memujuk hati pada sesuatu yang tak pasti, adakalanya membuatkan aku terhenyak sepi lantas langkah kaki dipaksa berlari tanpa henti; berharap rasa itu kan pergi. Dan hakikatnya aku bagai menghukum diri sendiri dalam percaturan yang meletakkan Kau makin menjauh, dan sakitnya bagai menikam diri sendiri. Sungguh aku lupa Rabbi, hanya padaMu tempat segala galanya kembali.

Tika segala galanya ku terasa ampuh, aku hanya mampu memandang langitMu Illahi. Labuhan yang menghantar degupan dihati, kerdilnya aku insan yang sering lupa saat dijengah oleh payahnya kata yang bernama kehidupan. Tuhan, saat aku benar benar terluka Kau menunjukkan jalan. Jalan yang memetakan haluanku. Jalan yang membuatkan aku kembali menangis, setelah luka yang berjaya aku jahit. Dan aku bertanya padaMu, ‘Tiadakah bahagia untukku?’ Dan Kau tersenyum memujuk, ‘Kehidupan ini adalah perjuangan hambaKu. Perjuangan yang Aku saksi pada air mata mu untukKu, pada taubatmu mengharap keampunanKu, pada rintihanmu mengharapkan jalanKu, pada pengharapanmu yang mendambakan KeredhaanKu, hanya Aku Yang Satu; Tuhan mu.’

Dan adakah bahagia yang lain yang kau dambakan duhai diri?

Untuk cinta yang tak pernah aku mengerti, yang membawa aku berdiri disini saat ini, memandang langit Illahi dalam mahabbah rindu yang tak kan pernah pudar, terima kasih Tuhan ku.

Anehnya cinta, perlahan memaku hakikat cinta itu yang sering menjagakan aku tentang betapa Agungnya Penciptanya...

Illahi
Setiap kali
Hati goyah
Meniti hari
Aku tahu
Kau ada
Memandang ku
Penuh kasih
Mengemudi langkah kakiku


Illahi
Setiap kali
Takut menyapa
Cinta dihati
Tak lagi mendamaikan
Hanya resah
Dan curiga
Yang merajai
Dan disudut hati kecilku
Ku tahu
Kebenarannya
Saat Kau pasakkan keyakinan
Yang tak pernah luntur
Yang membawa kaki ku
Teguh berdiri saat ini

Tuhan, untuk cinta yang Kau hadiahkan ini moga aku mampu menjaganya untuk yang halal buatku…


Memandang langit Mu
Sungguh aku bagaikan si gila
Dalam senyuman yang panjang

Pada birunya si langit
Kau sungguh ku terasa dekat
Berbicara indah
Membalut penatnya hariku
Menjadikan aku rasa indah
Dalam Rahmat dan Kasih Sayang Mu

Tika aku mencari bintang Mu
Untuk menyelam indahnya kerlipannya
Hanya bulan yang kelihatan
Dan aku terus menunggu
Kerana ku yakin pada Janji Mu Rabbi

Saat langkah kaki ternoktah dihadapan laut Mu
Betapa aku merasa kerdil pada alam Mu
Setianya sang pantai
Walau berulang kali dipukul ombak
Kerana sang ombak lah
Yang sering membasuh khilaf yang terpeta
Membawa jejak baru
Dalam mengharap Keampunan dan Keredhaan Mu Rabbi

Ketika aku ini pendosa
Yang sering melakar khilaf dijejak hari
Ampunkan aku Duhai Illahi
Saat hati sering basah
Bila disapa ributnya hujan
Yang datangnya
Untuk membasuh noda dosa
Yang aku sendiri lakari

Rabbi
Izinkan aku melabuh dikaki bukit Mu
Mencari segumpal hati
Yang makin tenggelam dalam ributnya hari
Moga aku kembali berlari
Mengejar pelangiMu
Yang telah Kau janji









©Dazz

No comments:

Post a Comment