Saturday, September 27, 2014

Sampai Masa Kita Pulang






Kau berlari dikala aku menjauh.Kita selari dalam mencipta jarak dan ruang.


Khilaf. Membawa langkah kaki yang sumbang berlari ditengah lebatnya hujan. Dilatari melodi sendu yang ada dalam tiada. Nyanyian pengharapan dalam asa yang kian tenggelam.

Suara yang berkumandang megah memenuhi awan, mengajak setiap yang bersyahadah menemui Penciptanya. Rentak kaki senada mengatur langkah. Tenang dalam rusuh. Hanya Dia Yang Maha Mengerti.


Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut kepada musuh, rasa lapar, kekurangan harta, kekurangan nyawa, dan kekurangan buah-buahan. Dan berilah khabar gembira kepada orang yang SABAR.
[2:155]


Bersama renta yang khusyuk dalam menyelami taat sang hamba, air mata yang mengalir dibiar sepi tak lagi bertemankan sendu. ‘Sabar Ir..’ Kala dahi mencium lantai sejadah, khilaf terlayar bagai tayangan. ‘Allah..’

Telekung ditarik keluar. Getar tubuh yang ditahan tak lagi tertahan. Birai katil dilabuh duduk. Tangis yang tersimpan perlahan berlagu, memecah sunyinya ruang. ‘Illahi..terima kasih..’


Saat khilaf terlakar jari mula tegak menunding; meletak salah. Lupa untuk membawa diri bersimpuh dalam duduk yang bernama muhasabah.


Kepala didongak ke langit. ‘Tarbiyyah Mu menuntun ku Ya Rabb. Dalam pahit yang Kau gaul menjadi manis. Walau kerap kali aku tersungkur dalam lautan ‘tanya’ yang membawa ku jauh dari pelabuhan sabar.’

Nafas dihela. Dalam.

‘Tuhan, dalam perjalanan yang ku susuri lelahnya menyedarkan aku rentas yang dilalui makin jauh. Jauh yang kadang terasa dekat; saat aku bagaikan tenat menitinya sendiri. Dan mendakap Mu erat ke dada, getarnya menghidupkan aku. Menyambung larian yang terhenti. Menggali manis dalam pahit yang terhidang..’

Langit yang bagaikan tersenyum indah, mengoyak senyuman diulas bibir.

‘Tuhan, sering aku rapuh meniti takdir yang Kau lukis indah dikanvas hidupku. Dan saat telapak tangan ku tadah ke langit, hanya secebis kekuatanMu ku pohon Ya Illahi..saat aku hanya perlukan kekuatan itu untuk meniti takdir yang Kau lukis menterjemah keindahannya disebalik calitan hitam kelabu yang sering membuat ku rebah dipertengahan jalan; lupa Kau ada menemani..’

Tangis yang perlahan sepi; terpujuk. Dada yang kian tenang disentuh lembut. ‘Moga disetiap khilaf yang datang, aku terdidik. Terima kasih Tuhan..’  “Irsya..bernafaslah dalam nadi hamba yang tak henti belajar dalam mencari RedhaNya.”


Ada luka yang tergumpal
Ada tangis yang terhenyak
Ada pilihan untuk berteriak
Ada sebab untuk tinggal diam
Laut tak selalunya bergelora
Tika hujan tak selalunya menyanyikan lagu sendu
Selagi matahari tetap muncul menyinari
JanjiNya pasti!
Buat hati hati yang meyakini.



Skrin yang kosong ditatap bagai ada bicara. Tangan perlahan dibawa lari didada keyboard.

Khilaf. Seringkali dijatuh sebab yang membawa duka dan air mata. Seringkali juga menjadi sebab yang merentakkan sebuah hubungan.

Dan khilaf dalam makna seorang Irsya diterjemah dalam dua kata; jalan pulang. Saat ketika tingginya kepala didongak ke langit khilaf datang, mengajar untuk sesekali tunduk ke tanah; membawa diri ke jalan pulang. Saat ketika jalan yang dilalui terasa lurus padahal sebenarnya kian bengkok, dan sekali lagi khilaf datang menuntun ke jalan pulang. Dalamnya makna khilaf yang mengubah kaca mata seorang yang bernama Irsya.

Dalam susunan langkah meniti perjalanan yang kelam tak terpeta yang kosong tak bertanda, hati sering lupa adanya jalan pulang; yang menjulang sebenarnya kemenangan setelah semusim lelah yang ditempuh. Dan khilaf datang, mengajar, menimbang, merenung, menyelami; takdir yang terlukis itu bukan hanya sekadar palitan tawa dan tangis, kecewa dan pasrah, buntu dan asa, lemah dan tewas.

Dijejak insan yang bernama Irsya, mengenggam takdir dalam palitan indah tak semudah mewarna kertas kosong menjadi sang pelangi yang cantik berwarna warni. Ada pengorbanan yang memeluk bisu agar tak rebah pada sang tewas. Ada air mata yang melunturkan asa dalam genggaman; membawa kaki berlari kian menjauh. Ada kecewa yang menyanyi; menghukum dalam buntu yang terbenteng dek kurangnya sabar.


Dan bangkit tanpa mengakui khilaf bagaikan si kulit yang lupa untuk berterima kasih pada sang kacang.


Saat khilafmu aku nampak; aku terbuta akan hakikat lorong yang membawa khilaf itu adalah aku. Saat khilafmu merenta dalam ke hatiku, aku lupa garit garit luka yang aku tinggalkan merenta hatimu tanpa maaf. Untuk setiap khilaf dan goresan luka itu yang kini membawa aku ke jalan pulang; maafkan aku..


Kau bagaikan kompas yang menyedarkan aku arah jalan pulang itu mesti dijejaki saat ia tak semudah jalanan kehidupan.


Rapuh meniti khilaf dalam titian usia yang kian usang, sabarmu mengajar aku erti sayang. Melebur amarah dan ego dalam simpuhan muhasabah yang menjadikan aku menunduk ke tanah; bersyukur.


Sampai masa kita pulang.


Pada ruang yang masih tersisa, aku melukis sang pelangi untuk aku warnakan dengan calitan warna warni agar keindahannya akan menuntun hati saat kaki mula berlari sumbang, menongkah langkah saat asa kian tenggelam, mengingatkan diri yang seringkali rapuh, ada jalan pulang yang harus aku tempuh.

Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadi penawar saat diri ini mengguris hati mu umi dan abah. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadi pengubat saat kau lelah meneladani aku dijalanNya abang. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu membuatkan aku teguh menuntun amanatMu menjadi serikandi yang Kau redhai. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadikan aku setia saat aku teruji dek ombak yang sesekali memukul ketenangan pantai. Kerana ku tahu Kau bersamaku..

Sampai masa kita pulang, moga aku lah bidadarimu disana nanti. InsyaAllah..


Sitting in the dark
You’re the answer when I prayed
All I want is to hold you forever
All I need is you more ever day

You’re the reason
My faith in tomorrow
A distant horizon
That I miss a lot

You’re the first
You’re the last





©Dazz

No comments:

Post a Comment