Friday, September 26, 2014

RASA







Terjaga dalam hening yang kosong, sentaknya menyenakkan dada. Peluh yang membasahi dahi bagai air hujan yang menghujani; dikesat jejari. Mata dipejam rapat. Dada yang begetar bagai dipalu disentuh lembut.

‘Ya Rabb, maafkan aku…’

Dicelahan peluput mata cecair putih mengalir membasahi pipi; lebat.


Untuk hidup yang penuh sia sia
Aku merangkak mencari CahayaMu
Dalam samar yang adakala terang; terkadang malap.

Untuk nafas yang jarang disyukuri
Aku bagaikan sapi yang menderhakai tuannya
Diberi nikmat dan teduh; hanya keluh dan tangis ku balas.

Untuk seketika waktu ini
Izinkan aku dakap hidayah Mu erat ke dada
Menyantun diri sebagai hamba
Dalam Haq yang sering aku nafikan.


Jauh di sudut hati setiap insan yang kecundang, ada keinginan untuk kembali ke jalan yang lurus. Mungkin liku hidup yang berbisa menjadikan laluan itu sukar. Mungkin peraturan yang tegas menyebabkan jiwa yang lemah memberontak. Dan dalam salah ada jalan kebenaran, dalam gelap ada sinar. Berjalanlah walau kau lelah. Menangislah andai kau terluka. Hidup bukanlah saat bagaimana kau memulakannya; tetapi bagaimana kau mengakhirinya.



Dia
Ada dalam tiada
Terkadang sepi dalam rebah
Bangkit dalam tawa
Masih belajar menyusur jalanan yang bernama kehidupan.

Ada tangan yang tak tercapai
Ada renungan diwajah yang kaku
Takdir membawa kau jauh
Tadahan doa yang hanya mendekatkan kita

Jalan itu tetap harus dilalui
Saat air mata tak kan mengubah jalan ceritanya
Berlarilah walau tak kencang
Ku tahu akar mu makin utuh berpaut
Dakaplah Dia erat dihati
Saat Dia tak pernah sunyi menemani hari hari mu
Dan aku tak selalu ada untuk mu
Tika aku jua masih rapuh meniti hijaunya kehidupan..



©Dazz

No comments:

Post a Comment