Saturday, October 6, 2012

Izinkan Aku mencintai Mu~






Part I


Dalam langkah demi langkah, lelah datang menyapa. Sejenak aku terhenti, menyedut sang udara, melepaskan lelah dan penat yang terhimpun.

Gerak laku yang menyapa tubir mata memakukan pandanganku. Tangan tua itu gigih memikul plastik gedabak dibahu kanan dan kirinya. Mengheret dari satu gerai ke gerai, dari satu lot ke lot, dari satu kenderaan ke kenderaan lainnya. Namun bebannya masih jua tak berkurang, dan peluh yang merintik semakin lebat membasahi baju lusuhnya.

Langkahnya masih diteruskan. Makin menjauh dari kornea mataku. Tanpa persoalan pertimbangan, akal menggerakkan kakiku menyusuri jejak langkah tubuh tua itu..

"Assalamuallaikum.." Santun suaranya terlontar.

"Maaf pak cik. Kat sini tak boleh mintak sedekah." Tanpa panahan korne ke korne, pintu lungsur segera ditarik tutup.

Kepala tua itu menunduk. Hampir lima minit terpaku diposisinya, tubuh tua itu mendongak ke langit lantas tersenyum. Kepalaku turut mendongak. Cuba melihat apa yang membuatkan si tubuh tua itu mampu tersenyum dalam refleks laku yang menghadirkan sendu didadaku.. ‘Sedang aku hanya pemerhati, bukan yang menggalasnya!’

"Alhamdulillah.."

Suara tua itu menyentakkan fikiranku.

Mukanya diraup dengan kedua belah telapak tangannya. Plastik gedabaknya kembali dicapai dan digalas ke bahu. Dalam senyuman yang hanya dia mengerti, langkahnya kembali bersambung.

Dan masih aku setia mengekori jejaknya.

Sejenak, tubuh tua itu menoktahkan langkah. Cermin kereta disisinya diketuk perlahan.

Tiada respon. Tiada tindak balas. Seolah didalamnya tak berpenghuni.

Perlahan tubuh tua itu menyambung langkah. Masih lagi tersenyum dalam teriknya mentari.

Kepala ku kalih ke belakang. Kereta yang lahirnya dinegara asing tepat dikornea mataku. Isinya bergelak penuh gembira ditemani penyaman udara yang menyelesakan. Sayangnya mereka buta hati..

Kakiku menjerit kepenatan. Tengkukku menagis kehausan. Jalanan ku rasakan sudah terlalu jauh, namun tubuh tua itu masih tegap melangkah. ‘Tak kehausan ke dia? Tak terasa penat dek pancaran matahari yang membakar ke dia? Sedang aku hampir rebah kelelahan..’

Lecongan langkah kaki tua itu kini tepat pada sebuah masjid. Dan hatiku terdetik bimbang. Bimbang beliau akan dihalau keluar. Rentak kaki mula berlari laju.

Seusai salam terakhirku, tubuh tua yang hanya dipisahkan dua kaki dariku masih bersimpuh dalam letaknya. Khusyuk sekali!

Telapak tangannya diangkat tinggi. Dan aku spontan mengikut gerak lakunya.

"Assalamuallaikum duhai Kekasihku.. Salam dan selawat ke atas Rasul junjunganMU, Allah hu ma soliala Muhammad wa ala alihi muhammad.."

"Sallallahu ala muhammad.." Dalam getar hati, saat suara yang terkandung berjuta rasa itu berbicara dengan Khaliknya aku diselimuti satu rasa. Rasa yang tak mampu aku huraikan. Namun cukup dengan kata ‘indah!’

"Duhai Kekasihku, alhamdulillah di atas kurniaan nikmatMU ke atas diriku hari ini.."

Hatiku berbisik, 'Sedang satu apa pun jualannya tak terjual..'

"..cukuplah untukku dan keluargaku. Sesungguhnya kurniaan RahmatMU terlalu besar dan berharga buat kami."

Dadaku bergetar bagai dipalu. Bait kata itu berputar dibenak. ‘”Sesungguhnya kurniaan RahmatMU terlalu besar dan berharga buat kami..” ‘RahmatMU..kata yang makin ku lupa untuk mensyukurinya apatah lagi untuk menghargainya Ya Rabbi!..’

"Duhai Kekasihku, dengan RahmatMU masih dapat ku kembali sujud kepadaMU. Dengan RahmatMU masih hati ini bergetar saat dilaungkan seruanMU. Dengan RahmatMU bibir yang hampir merekah dek kehausan ini masih basah dengan zikruallahMU..dan cukuplah Engkau bagiku Ya Rabb, Alhamdulillah.."

Pipi yang bila kebasahannya, tidak ku sedari..

"Duhai Kekasihku, padaMU aku datang mengadu. Kisah hati dalam tenatnya sebuah kehidupan. Kerana ku tahu, hanya padaMU tempat ku bergantung. Hanya padaMU tempat ku mengadu.."

"Duhai Kekasihku, jerihnya mencari sesuap nasi untuk mengalas amanah yang kau berikan padaku hanya Kau dan aku yang mengetahuinya. Di saat bebanan kepala ini tak mampu lagi menahan terik mentariMU yang menyimbah, dada yang beralun dengan zikruallahMU membisikkan janjiMU, dan Iman yang hampir rebah kembali teguh. Betapa besarnya RahmatMU pada hamba hina Mu ini Ya Allah..melebihi kekayaan nikmatMU. Ya Illahi, seandainya seisi dunia ini kau anugerahkan padaku, tetapkan hatiku dengan RahmatMU..”

“Duhai Kekasihku, terkadang aku terfikir seandinya aku punyai segala kurniaan nikmatMU saat ini, akankah aku merasai  syurganya RahmatMU ini..?”

Sendu yang ditahan menggetarkan seluruh jasad tuanya. “..ternyata tanpa kegelapan malam, tak mungkin aku dapat melihat indahnya gemerlapan bintangMU. Dan aku yang penuh hina dan jijik ini datang bersimpuh, atas kurniaan RahmatMU Ya Allah. Sentuhan cinta yang menjanjikan sebenar-benarnya nikmat cinta, yang tak ku temui pada hamparan duniawi yang aku redahi..”

“Duhai Kekasihku, seandainya cinta ini dapat ku terjemahkan kepada kata-kata, nescaya tiada air mata insan yang gugur sia-sia melainkan untukMU. Duhai Kekasihku, sebagaimana kau sentuh hatiku dengan cinta AgungMU, aku mohon Ya Rabb..KAU sentuhlah hati-hati kesayanganku, hati-hati saudara-saudara seagamaku, hati-hati yang merindui dan mendambakan MU, moga mereka merasakan hebatnya sentuhan cintaMU ini Ya Rabbi..”

‘Allah hu Allah!’ Dada ku lekap kejap. Menahan getar yang maha kuat.

“Duhai Kekasihku, kuatkan aku untuk meneruskan perjalananku. Duhai Kekasihku moga hari esok lebih baik kesabaranku, keImananku, keSyukuranku dan keteguhanku dari hari ini. Duhai Kekasihku sampaikan berita gembira buat insan-insan kesayanganku yang sedang menanti kepulanganku. Sesungguhnya KAU Maha Pengasih dan Pemurah..”

Tanpa dapat ku tahan, seusai tubuh tua itu meraup mukanya yang kebasahan, tangan tuanya ku capai dan ku cium.

“Anak ok?” Dia kebingungan.

Kepala ku angguk laju dalam sendu yang masih kedengaran. Masih lagi aku statik dalam posisi ku.

Usapan dikepala menenangkan. Aliran haba yang terasa mengalir ditubuhku mendamaikan. ‘Tubuh tua itu memelukku!’ Harumannya sangat harum. Usapannya penuh kasih. Dialah insan terpilih! Orang-orang yang mencintaiMU..dan orang-orang yang KAU cintai..

“Tiada indahnya dunia ini tanpa Redha dan RahmatNYA nak..”

“Pak cik doakan saya. Doakan saya sekuat pak cik..”

Bibir tua itu masih tak lekang dari senyuman. “InsyaAllah nak. Sama-sama lah kita mendoakan buat saudara-saudara kita.”

Angguk.

“Anak, ujian yang datang dalam kehidupan kita badainya berbeza. Jangan mengharapkan untuk jadi sehebat Hanzalah, tapi cukuplah bila kita kuat untuk melawan nafsu diri. Itulah sebenar-benarnya kehebatan disisiNYA. Hidup bermula dengan lahirnya sebagai bayi. Dan tak mungkin seseorang itu lahir terus sebagai orang dewasa. Sebegitulah dengan jalanan ujian. Kekuatan itu tak akan datang hanya dengan sekali jatuhan langkah. Tetapi kekuatan itu terbina dari asa yang tak pernah menyerah..” Bahuku ditepuk tangan tua itu berulang kali.

“Bergantunglah hanya padaNYA, insyaAllah selamat dunia akhirat. Jagalah DIA, nescaya DIA akan menjagamu. Yakinlah dengan janjiNYA, nescaya kau kan redha. Carilah ilmu walau dari anak yang kecil, nescaya jalananmu kan terang dengan suluhanNYA. Carilah keberkatan pada orang tua mu, nescaya RahmatNYA kan menyelimutimu. Dan cintailah DIA, nescaya kau kan rasai sentuhan cinta AgungNYA..”

“Terima kasih pak cik..” Dan pipi ku kembali basah..

“Sama-sama nak. Pak cik mintak diri dulu. Moga Allah swt memberkati mu. Assalamuallaikum.”

“Pak cik..” Tangan tua itu ku jabat.

“Anak?” Matanya bergenang dengan sinar kegembiraan.

Kepala ku angguk.

“Alhamdulillah.” Mukanya diraup. “Moga Allah memberkati mu..”

‘Ameen…’ “Waalaikumusalam.” Langkah tubuh tua itu semakin menghilang dari korne mata ku. ‘Pasti ku kan merindui titisan mutiara jernih dan sendu bicara tua ini..’


*****
Dada langit ku tatap. Kelamnya malam yang indah berbintangkan sang bintang. KAU ku rasa dekat. Terlalu dekat. Tanpa jarak pemisah. Inikah rasanya sentuhan cintaMU Ya Khaliq.. Moga saat ini kan menjadi milikku sampai ajal menjemput. Ku harap Ya Rabbi..

Dalam rembesan keinsafan, tadahan pengharapan sekalung doa ku bisikkan hanya padaMU, "Izinkan aku mencintaiMU...."

Cintaku tak berdusta
Tak mengenal ingkar
Tak kenal nestapa

Cintaku hanya indah
Hanya bahagia
Untuk selamanya

Apa yang ku rasakan ini
Persembahan untuk diriMU
KAU dengarkan kasih ku..

MencintaiMU tak mengenal waktu
Tak mengenal puitis
Hanya tulusnya hati
MencintaiMU tak mengenal ragu
Keyakinan hatiku
Hanya untuk diriMU selalu..

Cintaku tak berdusta
Tak mengenal ingkar
Tak kenal nestapa..

Tak ada seribu janji
Hanya bahagia untuk selamanya…


~Kurniaan Nikmat adalah ganjaran bagi ‘sesiapa’ yang berusaha. Dan kurniaan Rahmat adalah anugerah kekayaan bagi ‘hati-hati yang dekat denganNYA’. Hadirnya tak terlihat kerana sentuhannya penuh Rahmat!~

JourneyOfAbdillah,
Dazz Oct2012






Wednesday, October 3, 2012

Jalanan Yang Bernama 'TAKDIR'







Jalanan yang ternoktah tanpa petanda,
samarnya merapuhkan aku,
kelamnya membingungkan aku,
hempasan yang menyentakkan dada..

Cebisan cekal dihimpun dalam sumbang,
lipatan lakaran semalam ku selak perlahan..
Rembesan air mata,
pada hitam putih noda dosa yang menghias,
dalam kelekaan dan kealpaan yang melenakan..

Lipatan itu masih ku selak
dan kini sendu yang mengiringi..
Lakaran yang penuh warna warni tercoret,
coretan di atas hitam putih noda dosa yang terpalit..
Lakaran pengharapan dan taubat,
saat sang Iman didada diketuk
Allah!!!

Lipatan itu ku tutup rapi,
sendu hati ku pujuk kembali
sang Iman kembali mengemudi
Syukur padaMu Ya Illahi...

Duhai alam,
padamu aku berbicara
tentang Penciptamu dan aku
tentang cintaNYA yang SATU
dengarkanlah..

Ya Rabbi...
Saat ini
tika ini
Aku masih lagi menghirup udaraMU dalam nadi abdillah,
Masih lagi aku melangkah dan menyentuh dengan anggotaMU,
Tersenyum dalam jenaka yang mencuit,
Ketawa dalam bahagia yang singgah,
Damai dalam dakapan kasih insan-insan kesayangan,
Dan tertanya aku masih lagi disini
dilimpahi RahmatMU
dikurnia RezekiMU
dianugerahi KekuatanMU...
Dan...
Mengapa harus ku noktahkan langkah kaki hanya kerana rembulan yang tiba-tiba tenggelam dibalik awan? Sedang ku tahu masih ada bintang-bintang yang menyinari langkahku setia tak jemu..

Di bawah langitMU,
Aku, dia dan mereka tunduk bersujud padaMU
Damai  hembusan bayuMU...
Ku bisikkan syukurku padaMu..
Sesungguhnya janjiMU BENAR..
Kun Fa Yakun!



Aku mencari dalam samar yang mengelirukan,
Aku mengenali dalam sungkuran tatih yang melukakan,
Aku bangun dalam hempasan duka yang singgah,
Aku menangis dalam kebenaran yang terbentang jerih,
Aku tunduk sujud syukur dalam gapaianNYA,

Dan...
Aku belajar takdir itu indah!



Alhamdulillah. Subahanallah. Astagfiruallah.

Dazz
Oct2012

Monday, October 1, 2012

Catatan Jejari Tua~







Anakku
Seandainya kau tahu
Saat dikhabarkan janinmu dirahimku
Akulah wanita yang paling bahagia didunia ini..

Anakku
Saatnya denyutan nadimu berlari seirama denganku
Jerih dan penat yang menyelubungi terus luput dari lipatan memoriku..

Anakku
Saatnya retina mata ini melihat Agungnya kuasaNYA pada gerakan kecilmu
Lafaz syukur tiada henti berlagu disudut hatiku..

Anakku
Melihatmu bertatih dan terjatuh
Serasa kerdilnya aku diberi kemuliaan sebesar ini olehNYA
Lantas pada simpuhan doa
ku lafazkan ikrar
akan ku didikmu
akan ku penuhi dadamu
dengan keAgungan kalamNYA
sebagaimana DIA memilihku menjaga amanahNYA
akan ku jagamu sekudratku..

Anakku
Inginku bina mahligai bahagia buatmu
Inginku hamparkan kesenangan buatmu dalam meniti hari
Agar pautan memori mu penuh warna ceria
Agar hatimu penuh rasa bahagia
Namun anakku
Aku memilih pondok yang gahnya hanya sederhana
Aku memilih hamparan yang cukup untuk dibuat alas
Kerana anakku
Aku bimbang dengan mahligai megah itu kau kan alpa dan sombong
Aku bimbang dengan hamparan itu kau kan diulit lena dan mimpi yang palsu
tak berkesudahan
Betapa hati ini bimbang..
Bimbang sekali masa depan mu tergadai dengan hanya palitan warna warni pada hiasan hitam putih yang pastikan luntur saat badai hujan menimpa..

Anakku
Mengertilah
Pada keras izinku
Pada lantang garisan yang ku tekuni
Pada bingitnya ketegasan ku lontarkan
Pada kesederhanaan yang aku batasi
Bukan kerana aku mengongkong
Tidak juga kerana aku ‘kolot’
Jauh sekali kerana aku benci
Tapi kerana aku berharap
Dewasanya engkau
Punya kekuatan jiwa
Punyai maruah..

Anakku
Kekuatan jiwa tidak datang dengan belaian manja
Kekuatan jiwa tidak datang tanpa titisan air mata
Kekuatan jiwa tidak datang tanpa badainya ujian
Kekuatan jiwa tidak datang dalam riuhnya bahagia dan gelak tawa
Kerana kekuatan jiwa itu lahirnya dari hati yang sahabatnya ‘sang jerih’
Kekuatan jiwa itu lahirnya dari hati yang sentiasa ‘basah’
Kekuatan jiwa itu lahirnya dari hati yang tersenyum tika lainnya menangis
Kekuatan jiwa itu lahir dari Iman yang dibaja subur dan mekar bercambah hari ke hari..

Anakku
Saat kau meningkat dewasa
Saat kau mengenal dunia
Saat kau punya teman
Aku kau pinggir tak berendah..

Anakku
Dalam lantangnya lontaran suaramu
kau meluah
rasa hati yang kau kumpul lalu menjadi bara amarah
Tanpa segan
Tanpa silu
Aku menjadi bahan ejekanmu dan teman-temanmu
dan kau ternyata puas..

Anakku
Saat itu aku hanya mengukir senyuman
Bukan kerana aku mengumpul kesabaran
Tapi kerana akulah wanita yang terluka..

Namun anakku
Usah kau bimbang
Aku telah lama pasrah
Tanpa kesal dan lelah
Kerana pada jalananmu telah ku hamparkan selayaknya janjiku padaNYA
Dan DIAlah yang menjadi saksinya..

Dan kini dalam kewarasan akal dewasamu
Kau memilih jalananmu
Dengan menolak aku bagai hampas yang tak lagi berguna
Kerana prinsip ‘intelektual’ yang kau julang
Kerana prinsip ‘world wide world’ yang kau kiblatkan
Dan aku memilih tetap setia disisimu
walau berulang kali hadirku kau tolak amarah..

Anakku
Saatnya aku membentangkan kitab lusuh yang pernah menemani hari-harimu dulu
kau ketawa kelucuan
Bagai aku sedang mendodoikan mu dengan hikayat Pak Kaduk..
Kata-katamu yang kau lafaz terpahat kukuh dimemori tua ini
Kata-kata yang membunuh ku perlahan-lahan..
‘Ah, semua ni kolot la Bu! Zaman dah maju. Orang dah tak pakai ni dah..’
Dan bagaikan kepingan kaca yang pecah
hatiku hancur lumat
tak terperi..

Anakku
Walau dimamah zaman
Walau bumi terbelah dua
Walau tsunami membadai
Kitab ini tak kan pernah lapuk dizaman!
Moga kerasnya suaraku dipuput telingamu
Mampu menjagakan kau saatnya DIA datang melabuhkan sayap kemaafanya buatmu
Dan saat itu aku nanti 
p
enuh harap…


Anakku

Punyai maruah bukan sekadar luaran


Kerana maharnya tinggi tak terletak dan tak mampu dipijak

Melainkan kau yang menyerah dan merelakannya..

Anakku
Pada semaian kasih Kitab AgungNYA
Yang aku dendangkan padamu saat kau dipangkuanku
Bukan kerana aku punya cita-cita lahirmu sebagai hafiz dan hafizah
Bukan kerana aku punya cita-cita lahirmu sebagai qari’ dan qariah’
Tapi kerana..
Saatnya kau terlempar jauh
Lena dan leka diulit fatarmogana duniawi
‘Teman Sejati’ mu itu yang akan kembali menuntunmu..

Anakku
Punyai maruah bukan pada besarnya rumah yang kau diami
Punyai maruah bukan pada tingginya pangkat yang kau jawat
Punyai maruah bukan pada ramainya yang tunduk hormat padamu
Kerana punyai maruah itu adalah
Saatnya kau sedar kaulah hambaNYA
Saatnya kau tunduk padaNYA yang SATU
Saatnya kau hidup dalam sebenar-benarnya syahadah yang kau lafazkan..

Anakku
Maruah itu ibarat kaca ditengah lautan api
Tak akan mampu diganggu gugat
Tak akan mampu di alih pijak
Dan saatnya kau sendiri yang mengalihkan kaca itu dari tempatnya
Maka kehancuranlah yang menanti
Tak tersisa
tanpa belas..

Anakku
Dunia bukan hanya dihuni dengan keseronokan dan gelak tawa
Dunia bukan untuk kepuasan yang tertegak diatas khianatnya sang nafsu
Dunia bukan ‘demonstrasi’ menegakkan suara remajamu
Kerana dunia dihuni hanyalah sekadar singgahsana sementara sebelum kau berangkat pulang ke kampung Mahsyar..

Anakku
Hidup bukan untuk memilih
Tapi untuk kau jalani dalam ketundukanmu sebagai hambaNYA..

Anakku
Dengan kudrat izinNYA
aku mencorakkanmu
Dan dengan izinNYA jua
kau kini diatas jalan pilihanmu..

Anakku
Mengertilah..
Biar dihujung nyawa
Doaku buatmu tak pernah terhenti
Sebagaimana nadimu pernah bersatu didalam nadiku
di setiap denyutannya 
doaku mengalir buatmu..

Anakku
Kelmarin tangan tua ini pernah membuatkan mu menangis
Semalam bibir tua ini pernah membuatkan hati mu terguris
Esok jasad tua ini pastikan membuatkan mu terbeban
Dan oleh kerana itu
Aku mendidik mu merentasi duka
dalam meraih kekuatan jiwa
kerana ku tahu saatnya aku membilang usiaku
kau pastikan mampu tersenyum menyambut ragam ku..
Saat aku merungut tak betah,
kau mampu mengulang bicara dalam usapan kasih
Saat aku tak lagi mampu mengingat,
kau mampu teguh menuntun tanpa iringan cerca keluh dan kesah
Saatnya kakiku tak lagi kuat,
kau mampu mencempungku dalam sabar walau kau penat
Dan saatnya ku kembali mengguris rasa hati mu
kerana aku lupa jasa yang kau hulur semalam
Kau mampu mengukirkan senyuman
menyatakan yang kau bahagia punyai aku sebagai ibumu
Kerana lahirnya kau punyai kekuatan jiwa..
Kerana lahirnya kau punyai maruah..

Anakku..
Maafkan aku Ibumu
yang tak pernah ingin memahami hati mudamu
yang tak pernah ingin memenuhi permintaanmu
yang tak pernah ingin ‘membahagiakan’mu..
kerana inilah anyaman dan acuan kasih dan cintaku padamu…
Dan aku tahu
Kau pastikan memahaminya satu saat nanti..
Detik itu pasti kan tiba dengan izinMU Ya Rabbi..

Anakku..
Inilah nadi cinta seorang wanita yang kau panggil Ibu…

Catatan jejari tua,
Wanita yang bernama Ibu..



Nukilan,
Dazz:092012

P.s: Moga 'dia' kuat. Moga masih belum terlambat untuk 'dia' gapai sinar mentari itu. Moga 'dia' mampu menjadi kisah yang paling bahagia buatmu wanita yang bernama Ibu..
Dan moga kisah ini menjadi pedoman buat kita.




~Kadang-kadang dek kerana hati yang dipenuhi marah dan benci yang melahirkan dendam, kita terbuta oleh ego yang meliputi kasih bernama sayang. Namun usah bersedih atas lipatan kenangan semalam, kerana telah DIA rencanakan yang terbaik buat kita. Bangunlah hari ini untuk berjuang selagi ada kesempatan. Kerana hempasan luka dari sungkuran semalam adalah guru yang sangat mendidik walau hadirnya tak bersuara~

Be positive. Be strong. Believe HIM. InsyaAllah you will find your rainbow soon:) 
Barakallah. May Allah swt guide and bless us. Ameen~