Tuesday, May 29, 2012

Lakaran Semalam~



Dalam jalanan langkah kaki,
betapa aku terlupa tujuan aku disini..
betapa aku terlena dalam cita sendiri..
Bermatian mendaki gunung yang gah berpuncak tinggi,
demi sebuah cita,
demi kepuasan diri,
melakar lukisan mengikut acuan sendiri,
membutakan mata pada yang haq,
menjahilkan diri pada jalanan kebenaran,
demi nafsu yang aku julangi,
seolah aku bisa hidup selamanya..

Ditengah bahagia, pahit datang menyapa..
Ditengah ketenangan, kebuntuan datang bertandang..
Hitam putih kehidupan yang tak pernah sunyi terlakar..

Dalam keasyikan dunia yang aku cipta
Dalam kepalsuan dunia yang aku benarkan
Seringkali aku tersungkur rebah sendiri..
Kala itu air mata tak lagi mampu merawat
Senyuman tak lagi girang menghiasi..
Namun masih lagi aku disini..
memujuk diri 'Inilah jalananku. Aku adalah aku..'   'Sedang hakikatnya aku bukan sesiapa tanpaNYA...'
Dan aku masih disini...
makin menjauh...
tenggelam dalam dunia yang aku cipta sendiri..

Sekali ombak memukul,
masih pasir tinggal diam
endah tak endah...
Dan saatnya badai melanda,
semuanya retak terbelah,
tiada yang tinggal menghias...

Dalam hempasan luka, aku terjaga..
Kembali bertatih, bersimpuh memohon keampunan..

Langit ku dongak
Lakaran semalam yang kelam terlayar menghiasi..
Mendung dihati mula bersuara,
Menerbitkan mutiara jernih dipipi...

Hampir suku umur aku berjalan dibumi ini..
Namun baru saat ini aku mengenali PenciptaKu..
         Sang hati berbisik lirih...
             Kerana Dia Penciptaku,
             Pencipta Yang Maha Segala-galanya..
             Kerana kasih sayangNYA tiada nilaian, tiada taruhan, tiada gadaian,
             Aku masih disini, masih bernafas untuk kesempatan yang tak mampu aku 
             bayangi.. 
             Seandainya sekujur tubuh ini kan kaku saat aku masih lagi ghairah melakar 
             mimpi sendiri,
             Bagaimana nasib aku disana nanti...

Dan aku teresak sendiri...

Ya Rabbi...
   Aku lahir ke dunia dengan izinMU
   Lahirku saat Rasul dan sahabat telah jauh nun di kampung barzakh
   Para tabi' dan tabi'in juga telah jauh meninggalkan aku..
   Kini aku menyambung generasi yang mengalir darah yang sama,
   dalam nadi yang sama, atas mahar agamaMU yang satu, ISLAM...

Ya Rabbi...
   Zaman ku adalah zaman pemerintahan Islam yang tak lagi punya suara..
   Lemah tak berkuasa, tunduk hanya mengganguk, dihulur terus menyambut,
   dipuji terus meninggi, dibeli terus lupa diri...
   Sebuah pelaburan yang memperdagangkan mahar keIslaman,
   Kekejaman yang membunuh!

Ya Rabbi...
   Aku terbit ditengah masyarakat Islam,
   Namun warna keIslaman tak lagi menyinari, luntur dan sepi...
   Tiada lagi kedengaran suara-suara yang berzanji,
   Tiada lagi ceritera kalamMU yang menasihati,
   Tiada lagi imarah yang menyinari mahligaiMU
   Sebagaimana yang muda melupakan yang tua,
   tiada lagi hormat yang memagari..
   Dan kini
   Pekikan dan lolongan yang menghiasi,
   Perlumbaan yang menjulang kedudukan dan pangkat dikejari,
   Amanah yang dicerobohi,
   Fitnah yang mendasari tampuk pemerintahan,
   Peragaan dan penonjolan yang mendominasi,
   tiada lagi malu,
   tiada lagi harga diri,
   Layar jahiliyyah kembali menakluki..
   Islam dah terusir pergi,
   dari hati dan kehidupan mereka yang lahirnya bersyahadahkan khalimah ashaduallah
   ilahaillallah wa ashaduanna muhammadurrosullah...
   Semuanya hanya tinggal lafaz,
   sebagaimana debu yang terusir pergi dalam curahan hujan yang menuruni..

Ya Rabbi...
   Ditengah gelap gelitanya dunia,
   disudut-sudut pondok usang,
   dicorok-corok rumbia,
   masih ada lagi yang gigih berjuang,
   menyinarkan kembali cahaya keIslaman yang kian malap dek ditenggelami gah
   kemilau neon..
   Aku bersyukur kepadaMU...

   Dalam cebisan semangat yang memacu mereka teguh,
   Ku kuatkan azam menjadi sebahagian daripada mereka,
   walau ku tahu aku hanyalah ranting pada sang pokok,
   Akan ku cuba sedaya upaya menggerakkan generasiku yang telah lumpuh,
   generasiku yang kian buta dalam celiknya teknologi,
   generasiku yang menjadi hamba pada nafsu sendiri,
   generasiku yang terulit dengan cinta agung dongengan Romeo&Juliet,
   generasiku yang terpelajar namun tak berilmu...
   Namun Ya Rabbi...
   Saat kaki ini ingin melangkah dengan api jihad yang marak didada,
   seringkali akal bertingkah dengan sang hati..
   Aku takut Ya Rabbi..
   Aku lemah untuk membimbing mereka, kerana aku juga tidak sempurna...

Dalam tafakur tahjjud,
sang bayu datang berbisik lembut..
memujuk hati yang kembali rapuh,
menguatkan iman yang mula goyah,
Terima kasih Ya Allah...

Jika kau menunggu kesempurnaan untuk menggalas tugas ini,
nescaya kehancuran pasti mendahuluimu,
kerana tiada insan yang akan sempurna dan suci dari noda dosa..

'Sesungguhnya setiap Muslim berkewajiban untuk mengajari saudara seakidah yg masih bodoh tentang agama Islam'

Galaslah kewajipan itu dalam jalanNYA,
dan tugasmu adalah berusaha..
Gagal jatuh,
dicela tak diterima,
itu hanyalah perkara biasa..

Kadang saat hati kita diluka,
rasa sedih mencengkam terguris..
Namun jangan kita lupa,
dalam kita tak sedar,
hati lain jua kita guris..

Mengapa perlu mempersoal andai ada yang melontar rasa
sedang tika itu kita tak ubah sebagaimana dia..
Teruskan berdoa agar ditetapkan hati,
buang segala sangka yang menjadi iri,
kerana bukan nilaian harta yang kau cari,
bukan jua kerana nama kau ingin dikenali,
cukuplah redhaNYA sebagai mahar yang kau dambai,
Moga PimpinanNYA sentiasi mengiringi langkah kaki...

Jalanan dakwah itu manis,
namun landasannya haruslah dipantau,
bimbang dalam tak sedar tergelincir dari landasan,
kelak tak lagi balik ke pangkal jalan...

Jalanan dakwah adalah suci,
bukannya pentas meninggikan diri..
Jalanan dakwah itu murni,
bukan kayu ukur berapa ramai orang yang bisa kau takluki..

Jalanan dakwah bukanlah lesen untuk mu bermegah,
kerana jalanan dakwah itu punya dua cabang,
andai kaki tersasar melangkah,
jalanan kelam itu kembali kau huni...

"Katakanlah inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku
mengajak kepada Allah dan yakin, Maha suci Allah, dan aku tidak
termasuk orang-orang musyrik." [Yusuf:108]



Ya Allah,
Bantulah hambaMU ini..
sedarkanlah semula generasiku Ya Rabbi..
bangunkalah semula ummat akhir zamanMU ini Ya Illahi..
Aku yakin Islam pasti kan kembali,
dan aku tak akan berhenti sampai disini,
selagi nafas belum terhenti...

~Sekiranya anda memilih untuk teguh dan tetap dalam menempuhi jalan yang panjang dan sukar ini ketahuilah bahawa kemenangan akan tiba. Ia tetap akan tiba sama ada anda memilih untuk bersama atau tidak. Mohonlah pertolongan dengan sabar dan solat..~

"Wahai orang yang beriman,mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan solat. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar."  [al-Baqarah:153]


ErtiHidup
Dazz 0511:052012


Sunday, May 27, 2012

A Piece of Life~



Sometimes life just make you smiles...
But then its make you cry...

Feels so helpless. Being cold in the dark. Lost for nothing. Lonely. Just oneself.

For those thing that mess-up most, i'm still who i am. Being here. Nothing changed. Nothing moved. Just numb into myself. And the pain still sorely. Stab deep to the heart.

As the clouds began to march,
As the sun began to fade,
The moon will shining soon,
The star will sparkling bright...
Then why i'm still here...
Standing for nothing,
Just because the pain,
That will heal soon,
by the time,
by the days...
Unknowingly, the time went by just like that...

Hold the breath. Was hoping...
As the rain falls,
Let it wash away,
All the pain of yesterday...

But life just not easy as you sweep the dust away. Coz the truth, reality was bitter...

When people tell you to let it go,
the more tears drop in your heart..
When you pretend that you're okay,
The more you look bad...
As the sorrow show in your eyes...
Not speak out,
But, keep on spin a yarn...

I'm still standing here. Do nothing. Just waiting for the rains. Let it wash away all the pain of yesterday...

If life can give you smile,
it also can make you cry...
But life never walk away from you..
Either today,
it still will be your day..
Nor the past,
it still be your memories...

Then i realize...
Just hold your pain,
Drive your aim,
Let's smile again,
Coz Allah always cure your pain..
No matter what,
How much you feel hard,
HE always by your side...
forgive your mistakes,
Hear what you want to say about,
Accept your repentance,
Still give you a chance,
Waited for you...

So why i still standing far away from HIM...
when with HIM i will find my way...


"When I have fashioned him (in due proportion) and breathed into him of My spirit, fall ye down in obeisance unto Him." [15:29]

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadaNya dengan bersujud." [15:29]


The day its raining was tearing. Alhamdulillah...


When we stepped foot out,
Raise the hands,
Breath the fresh air,
Enjoy the bright sun shining,
Have we ever wonder,
Where did all this favors...?


If the people want to count the favors of Allah swt grant, they will not be able to calculateEven as the ink of sea water, all the twigs and leaves of trees as the pen is in the face of this earth as paper, it will never be solvedHow great and many blessings that God bestowed on around us... Subahanallah, Praise be to Allah Almighty...



Don't just seat for the mercy,
Coz the moments will pass away,
And you will still with the pains..
Don't just questioning,
Coz you will never find the way,
unless you go through the pain,
seek the bright way,
to get smile again...

Patience is beautiful...
As the rain begin to subside,
the rainbow will appear colorful...
Lovely. Peaceful. Solace.


"O you who have believed, seek help through patience and prayer. Indeed, Allah is with the patient." [2:153]


You can't run away for being hurting,
but you can turn the pain into happiness,
when you decide to face the pain as your test from HIM, with the full of love...


Being Abdillah not just follow your step and your head,
but being the 'real' Abdillah is when you know who  your Creator 
and follow HIS rules and pleased with HIS fate... ~


"Or do you think that you will enter Paradise while such [trial] 
has not yet come to you as came to those who passed on before you? 
They were touched by poverty and hardship and were shaken until [even their]
messenger and those who believed with him said,"When is the help of Allah ?" 
Unquestionably, the help of Allah is near."  [2:214]


ErtiHidup
Dazz 26052012

Wednesday, May 23, 2012

Duhai Lelaki...Maafkan Aku...




Deretan kedai aku susuri. Mata seakan rambang untuk memilih. Dalam asyik, jam ditangan kiri ku kerling. ‘Ah, dah lambat!’ Langkah ku hayun pantas.

“Eh awak kenapa?” Hayunan laju langkah Zara mengundang bingung dibenak.

“Aku ada shooting! See you later beb!”

Lambaian tangan Zara memaku pandangan. Di luar sedar, keluhan terlepas dari ulas bibir. ‘Andai kau mengerti duhai sahabat…’
******
Baju Baby-T putih disarung ke tubuh. Jeans biru ketat terletak elok. Sendat membalut batang tubuh. Bias dicermin ku pandang. Bibir tersenyum puas. ‘Perfect!’

“Nak pergi mana?” Zara dipandang tepat.

Heels disarung. Bibir setia mengukir senyuman. “Aku keluar makan jap.”

“Pakai macam tu?” Tubuh mula bangkit dari meniarap.

Fa dikatil dikalih pandang. “What’s wrong with that?” Dahi berkerut tak puas hati.

“It’s just not proper. Kan cantik if Zara pakai baju yang more sopan..” Bibir senyum memujuk.

“I’m already late. No need nak drees-up bagai la kan. Lagipun I prefer simple. Just like that.” Handbag dicapai. “Got to  go beb! Bye.”

Lengkok tubuh bak nangka yang berbalut itu dipandang sayu. ‘Oh sahabat, begitu enteng kau pandang tuntutanNYA. Sedang pada ‘simple’ yang kau julang itu mampu membunuh banyak hati yang beriman apatah lagi yang ketandusan imannya…’
*******
Walau awan tak kelihatan dek ditelan kepekatan malam, kota metropolitan masih lagi terang disimbah keindahan neon yang galak memancar…

“Hai!”

Kepala dikalih ke sisi kanan. Bibir spontan menguntum senyuman. “Hai…”

“Jimmy.” Tangan dihulur.

“Zara.”

“Nice to meet you.” Jejari runcing yang kemas digenggaman diusap lembut. “You looks so 
gorgeous tonite!” Bibir mula mendarat ditapak tangan sang gadis.

Kucupan yang melekap ditangan terasa hangat. Di bibir sang gadis tak lekang dengan senyuman. Bahagia dengan pujian yang meniti dari berpuluh-puluh jejaka yang bukan calang-calang latarnya.

“Be my partner?”
“Sure…”
“Dance?”
“Err…” Lantai tarian yang meriah dengan pelbagai gerak tari dikerling sekilas.
“Common baby.. You’re so hot to be there!”

Huluran tangan bersambut.
“That’s my girl!”

Bisikan lembut disisi telinga mengundang bahagia di hati. Bibir yang berlipstick merah bercahaya dengan senyuman. Palsu duniawi yang berjaya menjuarai sang iman yang makin malap…

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(QS. Al 'Araf : 179)


******
Buku-buku ditangan dihempas ke meja. Kuat.

Earphone disisi kanan ditarik. Kepala dikalih ke belakang. “Kenapa?”

Tubuh dilabuhkan ke sisi katil. Muka masih lagi merah. Menahan amarah yang memuncak 
didada. “It’s annoying!”

Senyum. “Siapa yang berani buat cik Zara menyampah ni?”

“Stupid guy!”

Senyuman hilang. Letak tubuh dibetulkan. “Maybe diorang just kidding…”

“Kidding with my dignity?”

Dahi berkerut. “Maksud Zara?”

“Ingat I ni perempuan murahan ke? Suka-suka nak sentuh. Nak pegang-pegang!”

Diam. Mata tetap tak kalih dari raut wajah anggun yang masih lagi mengomel marah.

“Zara…”

Fa yang statik dikerusi dipandang. Kening dijungkit tinggi. “Yup?”

Zara yang bersila dikatil dihampiri. “Boleh duduk?”

Kepala mengangguk.

Senyum. “Thanks.” Belakang tubuh Zara diusap kasih.

“Boleh Fa cakap?”

Dahi spontan bergaris. “Macam tak biasa?”

Senyum. Telapak tangan Zara dicapai dan digenggam. “Zara jangan pakai macam ni lagi eh..”

Baju ditubuh dipandang. “Kenapa?”

“Apparel reflects our pride. We who are the one that responsible for our dignity.”

Anak mata tepat dimata Fa.

“Malu mu mahkota yang tak perlukan singgahsana. Malu mu berkuasa menjaga diri dan nama. Malu mu benteng perisai dari berjuta tangan yang ingin memusnah. Malu mu tak terdedah, tapi lantang pada yang haq.” Raut wajah anggun didepannya dipandang kasih. ‘Moga hidayahMu miliknya Ya Rabbi…’ “Malu mu…tiada siapa yang boleh merampasnya. Melainkan kau sendiri 
yang pergi menyerah diri…”

“Aku keluar jap.” Genggaman terlepas.

Langkah Zara yang tergesa, bagai tak hilang dari tubir mata yang mulai basah. ‘Hidayah itu milikMU Ya Rabb…’ Dada diusap kasih. Getaran yang mengalun berjuta melodi. Bibir dipujuk tersenyum. ‘Kebenaran sememangnya pahit…’

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan" (QS. Fushilat : 20)


********
Tubir mata yang penuh bergenang diseka. Rasa didada yang tak tertafsir maknanya. Penafian yang tadinya lantang ditutur sepi tak bersuara. Diri seakan sesat ditengah banjiran manusia. Sesat yang melemaskan.

‘Entah pada siapa harus ku bohongi hati ini, sedang aku yang menelan segala pembohongan itu. Entah apa yang ku julang dengan fesyen yang kadang melemaskan jiwa. Tapi seringkali jua aku bangga saat banyak pujian yang termuntah dari ulas bibir lainnya.’

Langit ditatap dalam. Seolah mencari diri yang makin hilang..

‘Fa..maafkan aku. Aku tak kuat untuk berjuang membenarkan suara kecil yang seringkali meminta saat bayu keinsafan menyapa. Aku masih muda teman. Masih terlalu banyak impian yang harus ku kejar…’

Fonsel yang berdering kuat dikocek seluar ditarik. Nafas dihela berat.
“Yup?”
“Kat ner?”
“Hostel.”
“Macam biasa. Aku kat car park ni.”
“But..”
“Cepat sikit eh.”
“Dhia..!”
Klik.

Keluhan berat terlepas dari ulas bibir. Perlahan kaki mula menapak menuruni anak tangga blok.

Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami himpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta, Berkatalah ia,' Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu di dunia adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman,' Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu pula pada hari ini kamu akan dilupakan. " Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat RabbNya dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.  [20:124-127]

********
“Zara…”

“Pleaselah! Aku dah muak tiap-tiap ari menadah telinga dengan tazkirah kau!

Tubir seakan basah. Nafas ditarik memujuk. “Tapikan…”

“What?”

“Pakaian Zara yang mendorong mereka bertindak macam tu…”

Kepala dipusing laju mengadap Fa. Mata bulatnya tajam menikam raut wajah sang teman. “So you wanna put all the blame to me?”


Kepala digeleng laju. “Jangan salah faham..”


“Then?”
“Allah s.w.t dah menggariskan panduan kita dalam berpakaian. Kita…”
“Again! I’m not interested to hear any tazkirah right now! Not today. Tomorrow. And forever! Take note ok.”


“Zara…”


Sling bag dicapai.


“Zara…please. Fa sayang Zara. Allah s.w.t sayang Zara, sebab tu Allah s.w.t datang kan kejadian ni untuk Zara sedar..”


Gelak tawa yang kuat pecah dari ulas bibirnya. “So, apa yang budak-budak lelaki tu buat kat aku sebab Allah sayang aku?” Kepala digeleng laju dengan senyuman sinis terukir dibibir. “Common la…raba aku sesuka hati macam tu untuk sedar kan aku? Tu penghinaan yang sangat hina untuk aku!”


“Kalau itu hina bagi Zara, kenapa Zara yang menghinakan diri sendiri?”


Raut wajah Fa yang serius dipandang tepat.


“Tiada siapa yang paksa Zara untuk dihina. Melainkan Zara sendiri yang memilih untuk dihina.”


Mata membulat. Tangan terangkat tinggi. “Kau..”


“Tiada yang lebih hina dari menjual maruh dan harga diri. Apatah lagi hanya semata untuk pakaian yang nilainya sekecil debu yang kan hilang pabila ditiup angin…”


Raut wajah jelita dihadapannya dipandang tepat. “Jangan bercakap tentang kehinaan, sedang dirimu yang mengundangnya. Jangan mempersendakan peringatanNYA, takut kelak kau yang akan dihinakanNYA. Stop lying yourself for those joy that you create. Assalamuallaikum.”


‘Seandainya mahar persahabatan itu tergadai kerana agamaMU, sesungguhnya tiada kesal yang menghuni hatiku Ya Tuhan…’
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.  [57:16-17]
********
Suasana yang bingit dengan hentakan muzik yang mampu memekakan telinga penuh sesak dengan pelbagai ragam manusia yang monopolinya beragama Islam. Zara tenggelam dengan keasyikan air kuning yang berjaya menghapuskan bebanan dibenaknya. Dunia seolah miliknya.

Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam Al-Quran, serta dia menurut hawa nafsunya dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran.  [18:28]
********
Kepala yang memberat seakan batu menghempap sangat menyakitkan. Dalam silau yang terang, kelopak mata cuba dicelikkan.


‘Kat mana ni…’ Dalam bingung, otak mencerna.


“Dah bangun?”


Suara garau yang menyapa menghadirkan cemas didada. Kepala pantas mencari arah suara yang kedengaran.


“Here.” Tuala yang masih berlipat dihulur.
“Awak siapa? Saya kat mana?”


Senyum. “Take your shower. Then we will talk about it.”
********
Kaki perlahan menapak menuruni tangga. Suasana sunyi yang menyelubungi mengundang resah.


“Cik dah bangun?”


Dada diurut perlahan. Kaki perlahan melangkah merapati susuk tubuh tua yang menegur.
“Saya kat mana?”


Bibir mengukir senyuman. “Jangan risau. Cik selamat. Jemputlah makan. Kejap lagi tuan turun.”


“Err…” Kelibat susuk tua itu mulai hilang dibalik pintu. Nafas dihela kuat. Makanan yang terhidang dimeja dipandang tak berperasaan.
*********
Zara yang masih tercengat memandang hidangan di atas meja dipandang. “Dah makan?”


“Huh?”
“Makan?” Kaki menapak ke hujung meja.
“Saya kat mana?”


Langkah terhenti.


“Awak selamat.”
“You’re not answering my question.”


Senyum. “Can we have a launch?”


“Saya nak balik!” Kaki mula melangkah tanpa arah.
“Let’s talk.”
‘Finally…’
*******
“Remember where are you last night?”


Benak ligat berputar. Memori semalam mula terlayar. Spontan bibir diketap kuat. “Awak tak apa-apa kan saya kan?”


Senyum. “If I say yes…”


“What?” Tubuh spontan tegak berdiri.


“Calm down.” Tenang.


‘Dia boleh suruh aku bertenang dalam keadaan macam ni?’ Dalam marah yang memuncak, tubuh kembali dilabuh ke sofa.


“Apa awak rasa bila seorang lelaki berdepan dengan perempuan cantik dan seksi  yang tak sedarkan diri macam awak ni akan buat?”


“Hey!”
“Cool.”


Bibir diketap kuat.


“Seems like you’re not cheap as your clothes..”
“Don’t be rude with me!”


Kepala diangguk. “Tapi awak yang cabar saya…” Renungan dan bisikan garau yang terasa dekat ditelinga memaku diri.


Langkah lelaki yang bersuara garau yang mula menapak bangun dipandang.


“Mungkin saya boleh bersabar. Dan awak masih lagi bernasib baik…” Kepala dikalih. Zara ditenung tepat. “Tapi tak mustahil berjuta lelaki lain diluar sana boleh bersabar dengan cabaran awak..” Senyum.


“Bila masa…”
“Thanks to the proprietors of the letter.”


Langkah lelaki bersuara garau yang mulai hilang dipandang lama sebelum surat yang terletak elok diatas meja dikalih pandang. Dalam dilemma rusuhan yang bermain dibenak, sampul surat coklat itu dicapai.


Assalamuallaikum…
Nur Zara Ibtisam…dikesempatan ini Fa nak mintak maaf atas segala keterlanjuran kata selama kita bersahabat. Mungkin pada Zara persahabatan ini tiada nilainya. Siapalah Fa kan..hanya tahu membebelJ


Zara…mengenali diri Zara, tak pernah terlintas kata sesalan dalam diri Fa. Sebagaimana Zara terima diri Fa seadanya, Fa terima diri Zara seadanya. Tapi teman..apalah guna Fa sebagai teman sejati andai Zara melangkah pada jalanan yang salah Fa hanya berdiam diri. Apalah guna Fa sebagai teman sejati saatnya Zara hanyut pada lautan duniawi Fa hanya memandang sepi…


Zara…
Saat Zara pulang ke bilik dengan raut muka yang tension dan luahan kata-kata tak puas hati dek kerana budak lelaki yang kerap menganggu, pernahkah Zara terfikir MENGAPA semua tu berlaku?


Pernah dengar tak ayat ni, “Masakkan pokok bergoyang jika tidak ditiup angin.” Dan masakkan budak lelaki tu menganggu andai tiada yang menarik dan mendorong mereka?


Sedar tak sedar, bukan Zara yang menjadi mangsa. Tapi mereka, kaum Adam! Setiap hari, setiap saat, setiap detik, setiap tempat mereka terpaksa berjuang. Berjuang dengan sang nafsu demi mempertahankan iman yang tinggal secebis cuma dek kerana wanita yang tak pernah cuba mengerti, tak pernah cuba memahami, malahan dengan bangga diri menonjolkan diri, seolah tak punya harga diri. Saat MALU tak lagi berfungsi sebagai perisai diri..


Duhai teman…
Kasihanilah sang Adam. Bantulah mereka menjadi sang soleh untuk memimpin dunia yang kian tandus. Bantulah mereka untuk jaga dari lena yang panjang untuk mereka yang menanti nun jauh dimedan berdarah. Bantulah mereka…bukan memusnah. Kerana pada merekalah tonggak pemerintah tegak berdiri. Pada merekalah bahtera dikemudi. Pada merekalah yang tertindas kembali bebas merdeka. Tumbangnya mereka, hilanglah khalifah bumi.

Mengertilah duhai wanita…
Jangan kau gadaikan mahkotamu dengan pujian,
Jangan kau gadaikan maruahmu dengan rebutan,
Jangan kau gadaikan pinjamanNYA itu dengan dunia…
Kelak tiada yang tersisa buatmu,
Melainkan balasan nista dan kehinaan atas perbuatanmu…

Duhai wanita…
Lihatlah hakikat dunia,
Kerana mahar harga dirimu yang kau perdagangkan,
Seorang datuk sanggup memperkosa cucunya sendiri,
Seorang ayah sanggup merenggut mahkota suci milik sang anak yang dulunya ditatang penuh sayang,
Seorang abang sanggup merampas kesucian adik kandungnya kejam,
Apa lagi yang tinggal duhai wanita…
Megahkah aurat yang kau perdagangkan itu?
Saat yang lainnya menjadi mangsa keangkuhanmu…

Bagaimana mungkin?
Bukannya mereka saudaramu,
Bukan jua jiranmu..
Tapi merekalah wanita yang lahirnya penuh kesucian,
Namun direnggut kejam dek keangkuhanmu!
Yang lantang menafi
Sedang bukti terpampang tak lagi tersembunyi!

Fahami bait kata ini…
Saat kau berlenggok penuh gaya
Sang Adam bergelumang hebat dengan sang nafsu..
Dan kau terus menggoda,
Tersenyum megah saat mata sang Adam tak putus memandang..

Tinggallah si Adam dengan layar yang tak henti berpusing dibenak
Kecundangnya sang iman ditangan sang nafsu
Adik yang dulu disayangi tak lagi waras dimata
Dalam nafas yang kencang
Mahkota yang dulunya dijaga dan dipertahankannya direnggut tiada belas!
Tumbangnya sang Adam ditangan nafsunya…
Begitu mahal keangkuhan yang kau layarkan duhai wanita!

Setiap tegahanNYA punya hikmah. Siapalah kita untuk berkata tidak dan mengingkarinya. Sedang kita jua milikNYA..


Sendu yang tertahan tak mampu lagi tinggal diam. Bersama simpuh yang terlorut menyembah lantai, suara kecil yang dulunya dipandang sepi meraung hiba..

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
Meninggalkan dirimu
Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sedari
Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
Mengulangkan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan kembali padaNya
Bila waktu telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."  [3:185]
*******

“Zara…”


Sentuhan lembut dibahu mematikan layar semalam. Pipi yang basah dek mutiara putih disapu jejari.


“Fa…” Manis senyuman yang menghiasi bibir.


“Tenang kan..” Tangan didepa. Menyambut dakapan bayu yang seolah memeluk damai.


Mata yang masih setia ditengah lautan tersenyum mengia. “Tiada yang setenang dan seindah ciptaanNYA. Sang bayuNYA mendakap tika hati basah sendirian dalam menempuh ujian yang bernama kehidupan.  Sang langit dan isi bumiNYA menghibur indah tika jiwa penat dengan godaan yang melalaikan. Sang bintang dan bulan memancar indah tika hati rindukan kasihNYA. Mereka tak bersuara. Tapi merawat duka..”


“Itulah KeBesaran dan KeCintaanNYA. Gelap pada yang sesat. Suram pada yang tak endah. Bercahaya pada yang medamba penuh rindu…”


“Fa…”


Kepala dikalih ke sisi kanan. “Ya?”


“Mampu ke Zara? Kuat ke Zara?” Suara berlagu bimbang.


“Dia tak pernah mengecewakan hamba-hambaNYA duhai sahabat..”


“Bagaimana kalau Zara yang mengecewakan DIA? Bagaimana kalau dipertengahan jalan, Zara kembali berpaling?”


Tangan Zara dicapai dan digenggam. “Dalam perjalanan ke sebuah destinasi yang letaknya beribu jauh, bekalan yang dibawa perlulah mencukupi.  Dalam jalanan perhambaan seorang abdillah pada Tuhannya, DOA adalah bekalan yang tak akan pernah surut. Serahlah dirimu sebenar-benar penyerahan padaNYA. InsyaAllah DIA pasti menuntunmu ke jalanNYA..”


Pipi kembali basah. Tubuh Fa didakap. Erat. “Thanks Fa…”


“Sesama. Alhamdulillah.” Tenang. Damai. Bahagia.
‘Syukur padaMU Ya Allah…’

Sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (mematuhi perintahNya) sedang ia pula berusaha supaya baik amalannya, maka ia akan beroleh pahalanya di sisi Tuhannya, dan tidaklah ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita.  [02:112]

********

Bayu pantai yang bertiup mendamaikan. Keindahan yang dulunya tak terkesan saat hati dibutakan dengan dosa yang menggunung. Langit ku dongak. Awan seakan tersenyum ke arahku. Menyuntik semangat dalam tatihan langkah yang baru bermula..

Dalam lakaran kelam
Aku melakar penuh khusyuk
Mengharap lakaran yang penuh sempurna
Yang mampu meraih pujian berjuta ulas bibir
Dalam sunyi jejak yang mendamaikan
Aku terjaga pada huluran sepasang tangan
Huluran yang menyumbangkan lakaranku
Huluran yang menjagakan aku pada sebuah hakikat
Huluran yang menuntun aku ke jalan yang terang
Huluran yang menghidupkan hati yang telah lama mati
Huluran yang membisikkan bahawa akulah hamba, dan DIA Allah s.w.t Penciptaku…

Kini saat tanganku kembali melakar
Pada sebuah kanvas putih yang suci
Izinkan aku melakar jalananMU Ya Rabbi..
Agar kelak,
Tika ku terleka,
Tika ku terlalai,
Lakaran ini kembali menjagakan aku…

Dalam hidupku
Sebenar-benar kemaafan yang aku damba
Hanyalah buatmu duhai insan..
Dalam simpuhku
Dalam sujudku
Dalam rukukku
Aku tak berhenti berharap..
Duhai lelaki,
maafkan aku…

Nur Zara Ibtisam
0337:170512
*************
   TAMAT


Lihatlah panorama dunia
Wanita bagaikan hilang rasa malunya
Maruah yang menjadi maharnya
Tergadai sia bagai tiada berharga..
Di manakah budinya di manakah akhlaknya
Sungguh pilu dan sayu mengenangkannya
Santun tiada lagi, nafsu memimpin hati
Kehormatan diri tidak dipeduli..
Oh wanita kembali menginsafi
Kepada asal fitrah kejadianmu
Diciptakan untuk dihormati
Sentiasa diredhai Tuhan Pencipta
Kembali kepadanya juga pada Rasulnya
Pasti dihadirkan taufik dan hidayahnya

Wanita...
Kembalilah ke arah kemuliaan
Contohi peribadi Ummul Mukminin
Rasulullah dijadikan suami
Tertawan kerna keluhuran pekerti
Bukan kerana harta bukan kerana nama
Tapi kerana budi yang disanjungi

Kembalilah...

Wanita perhiasan dunia
Bagai kilau permata di antara kaca
Sayangnya makin pudar cahaya
Hingga tiada lagi beza di antaranya..

ErtiHidup
Dazz 0517

Tuesday, May 1, 2012

Di Balik Hujan~




Adakalanya aku terjatuh dalam tuntunan langkah
Adakalanya aku khilaf dalam lantunan suara
Adakalanya aku lelah dalam jiwa sendiri
Adakalanya aku buta dalam terang
Adakalanya aku lalai dalam jaga
Adakalanya aku menangis dalam tawa
Adakalanya aku tersenyum dalam sendu
Adakalanya aku terlempar dalam tak pasti
Adakalanya aku terhempas dalam bahagia
Adakalanya aku tercalar dalam luka
Adakalanya aku tenat dalam teriknya mentari
Adakalanya...
Ingin sekali aku menoktahkan langkah kaki..

'Seringkali aku tersungkur pada dunia...'

Dibalik hujan
Aku terdiam
Basah ditemani air mata
damai berselimut kesejukan
Terkaku pada kebesaranNYA...

Ajarkan aku duhai langit..
tentang KEBESARANNYA agar aku mengerti inilah tarbiyyah tanda cintaNYA buatku..
Ajarkan aku duhai awan..
tentang KEKUASAANNYA agar aku tahu DIA sentiasa bersamaku..
Ajarkan aku duhai bintang..
tentang KEAGUNGANNYA agar aku tahu hanya padaNYA tempat bergantung..
Ajarkan aku duhai mentari..
tentang KEESAANNYA agar aku tahu dunia ini hanyalah persinggahan..
Ajarkan aku duhai pelangi..
tentang KECINTAANNYA agar aku tahu indahnya bernafas dalam nadi hamba..
Ajarkan aku duhai alam..
agar ku tahu betapa Maha Agungnya DIA Penciptaku...

"Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaranNya) atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmatNya itu).
 [al-Furqan:62]




Bismillah..
Ya Rabbul Izzati..
Dalam simpuhan hina, aku tunduk mendamba secebis keampunanMU..
walau ku tahu air mata ini tak akan mampu membasuh noda-noda dosa semalamku..

Ya Rabbi..
seringkali aku tersungkur dalam langkah..
Permulaan perjuangan yang tak punya jiwa..
menghumban aku jauh ke dalam lautan kecewa..
seringkali alpa pada taliMU..
seringkali meragui pada ketentuanMU
terkapar kelemasan
lelah dalam jiwa sendiri..

Ya Rabbi..
Telah ku susuri beribu liku
menagih pada dunia
mengemis pada manusia
mengharap pada kemilau kemewahan
Berdusta pada jiwa...
demi membenarkan apa yang dihajati
demi menegakkan apa yang dipunyai
demi mempertahankan apa yang dimiliki..

Namun Ya Rabbi..
Saat deraian air mata tenat menitis
hanya Engkau yang hadir menyapu..
Saat langkah kaki tersungkur tak berdaya
hanya Engkau yang hadir menuntun kembali..
Saat jalanan yang terang mulai kelam
hanya Engkau yang hadir menyuluh..
Dab saatnya aku tenat...
Terhempas. Terluka. Kecewa. Berdosa..
HANYA ENGKAU yang hadir memeluk..
indah menyelimuti dengan Nur-KasihMu..

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkannya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani." 
[an-Nahl:18]


Ya Rabbi..
Aku bukanlah seteguh hanzalah
tidak jua setabah Summayyah..
Aku hanyalah hambaMU yang seringkali khilaf..
Namun Ya Rabbi..
disudut hati ini
seringkali aku mendambakan
akulah sang teguh dan sang tabah diakhir zaman ini..
Amanah pada yang haq
Lantang pada sang nafsu
Jujur pada tanggungjawab
Benar pada laku
Ikhlas dalam mahabahMU
Walau hanya dalam kelamnya malam…
izinkan aku Ya Allah...

Andai bumiMU megah dengan isinya..
Andai langitMu menongkat dengan keindahannya..
Ya Rabb..
Aku lah hambaMU yang megah mendabik
kerana diizinkan bernafas dalam nadi abdillah..

Terima kasih Ya Illahi...


"Apa jua kebaikan (nikmat kesenangan) yang engkau dapati maka ia adalah dari Allah dan apa jua bencana yang menimpamu maka ia adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri dan Kami telah mengutus engkau (wahai Muhammad) kepada seluruh umat manusia sebagai seorang Rasul (yang membawa rahmat) dan cukuplah Allah menjadi saksi (yang membuktikan kebenaran hakikat ini)." 
[an-Nisa':79]


ErtiHidup
Dazz
0327:280412