Monday, April 23, 2012

Biarkan Aku Bermimpi~





Jalanan itu tetap aku susuri
dalam tegak
dalam lelah
tetap menerusi hari
tiada henti
tiada mati...

Senja nan merah mula melabuh
kicauan riang sang burung mulai sepi
ombak yang kencang memukul kian surut
tibanya saat sang bulan mengganti
hukum karma yang tiada henti
selagi bumi belum merekah
selagi ajal masih belum kunjung tiba
selagi tiupan sangkakala belum kedengaran...

Semalam bibir tersenyum indah
layar yang menghiburtersemat kukuh dibenak
bagai aku adalah sang rama-rama..
berterbangan bebas
riang bercanda
tanpa bebanan masalah...

Ombak yang menderu
masih lagi memukul pantai
tiada penat
tiada henti...

Kini aku terdiam beku
bersama air mata yang membasahi
ditemani sendu yang sepi..

Sunyi. Sepi..
Tiada lagi lagu riang yang bersiulan
hanya deraian air mata yang menemani
bersama sendu yang tenggelam di tangkai hati..

Dada langit ku tatap..
Berlarilah kecewa
jangan kau singgah walau untuk sekejap..
Berlalu sepi
jangan kau sapa daku walau untuk sesaat..
Pergilah ketakutan
jangan kau menguasai aku walau untuk seketika..
Pergilah..
Berlalulah..
Izinkan aku kembali bersimpuh dalam nadi seorang hamba...

Ombak yang mulai tenang
serasa mendamaikan..

Kalanya ada kelukaan, pastikan hadir senyuman merawat duka...

Ya Illahi...
HambaMU yang penuh noda ini datang bersimpuh..
Dalam deraian air mata
dek tersungkur pada palsu dunia..

Dalam lena semalam
aku terjaga
dikejutkan sang Malaikat
kala yang lainnya lena diselimuti gebar tebal..
Dan aku tersedu sedan...
'Masih kesempatan ini milikku, terima kasih Ya Allah...'

Dalam tenat yang menghuni penuh sudut hati
kembali aku meraba
tercari-cari tikar usang yang sekian lama aku tinggalkan..

Saat tikar usang itu ku hampar
pelbagai rasa yang singgah
menghadirkan sejuta getar
'Hinanya aku sebagai hambaMU...'

Dan saatnya dahi sujud dihamparan
hati berbisik hina, 'Akulah hambaMU, dan Engkaulah Tuhanku...'

Sendu yang sekian lama terhempas disudut gelap
berlagu tak bermelodi..
'Masih kesempatan ini milikku, terima kasih Ya Allah...'


Dibawah langitMu
bersujud semua memuji memuja AsmaMu
Dan bertasbih semua makhlukMu
tunduk berharap cinta dan kasihMu...

Menangislah duhai hati
insafi khilaf yang menggunung
Selagi masih berkesempatan..
'Moga RahmatMu menyinari hati gelap ini menuju Nur AgungMu...'


Cahaya Ilahi
Hangatnya di hati
Di langkah sejuta wajah
Terbata penuh salah..
Jalani sang hidup
Terluka. Terhempas. Berdosa..

Pergilah duka
Berlalu air mata sendu
Moga tak lagi ku tangisi takdir semalam..


Hitam putih jalan hidup
Pahit getir warna dunia
Tangis tawa rasa hati
Terluka atau bahagia..

Saat tenggelam dalam simpuhan air mata duka
terluka pada dunia
aku tetap aku..
Tersungkur. Terluka. Terhempas. Berdosa.. 


Rasa bangga sementara
Setiap duka tak abadi
Semua wajah kan diuj
Pada Allah kita kan kembali..

Kembalilah padaNYA..
nescaya tiada duka nestapa yang merantai..


Dan bertasbih semua makhlukMu
Tunduk berharap cinta dan kasih-Mu...
Subahanallah...

Selebat hujan yang mencurah
hamparan yang terbentang basah ternoda
mengharap pimpinanNYA..
memohon agar dikabulkan..
'Moga lorongan suram itu tak lagi aku jejaki Ya Illahi..'


Andai ini hanya ulitan mimpi dikala bulan menyelimuti
Biarkan aku terus bermimpi...
Ya Rabbi..

ErtiHidup
210412
Dazz


[Taken from cerpen Biarkan Aku Bermimpi]

Saturday, April 21, 2012

The Roses~






"Here!"

Kepala tergeleng tanpa sedar. 'Aina, Aina...!'

"Subahanallah..." Mulut terbentuk separa oval.

"How much the roses?" Lelaki berkulit putih dengan rambut putih yang diikat kuda dipandang penuh teruja.

"Do you love it much miss?" Senyuman yang tergarit tetap berseri walau liar jambangnya kelihatan berserabut.

Tangkai ros merah selamat ditangan. Mata terpejam erat menikmati wangian segar milik sang bunga.

Tingkah Aina mengundang gelengan kepalanya buat kedua kalinya. "Yes, she love it much." Bibir menlontar senyum pada sang pemilik gerai yang ralit memerhati tingkah sang sahabat.

"Her eyes told it..."

Pandangan kembali berlabuh diwajah Aina. Kenangan dua tahun lepas kembali berputar dikotak memori...

"Kenapa Roses?"

Tiada patah bicara yang kedengaran. Hanya garitan senyuman yang terpahat indah menghiasi bibir. Leka dengan bunga Ros yang mengelilingi.

"Catchy of love-story-watermark?" Sengih.

Gelak halus pecah. "Enough with the karat-jiwang-air lorr..." Geleng kepala.

"Then?"

"No specific reason. As we're born, we crawl, we toddlers, we walk, we heard, we watch then we learn."

Dahi berkerut.

"We don't plan to do it, but we did it."

Kepala mula terangguk. 'Yes. We don't plan it. But we do it!'

"The roses goes as same as others flowers. Blossom. Fragrant. Colourful.But it's become special because of his thorn."

Wajah Aina dipandang ralit. Bias kata yang menarik akal.

"As we are..." In dikalih pandang. "Muslim. Same colour. Same hair. But the 'Amal' distinguishes us. A real Muslim or just descent."

Nafas ditarik lambat. Memberi ruang udara pada akal yang seakan lemas. Chock with own-self.

Bahu In ditepuk lembut. "Define doesn't mean boys and gurls. Sugar and salt. Moon and stars. It's mean, how deep you seeing, the deeper you know your Rabb.."

"Means?"

"Look at the sky. Everything was standing by their own-self. The cloud. The sun. The moon. The star. They never fall. They never slanting. Even the thousands of times you see it."

Smiling.

"The sky. You will feels HIS Greatness.As your heart falling for it. You will never bow your head. You will never wish to closed your eyes when the tears started down your cheeks.Is it not enough to prove?"

Do they see nothing in the government of the heavens and the earth and all that Allah hath created? (Do they not see) that it may well be that their terms is nigh drawing to an end? [Al-A'raf:185]

"When i look at the roses not because of his blossom. Also not because of his fragrant. As i look at the roses, my eyes closed. My heart was whispering how grateful i am (Alhamdulillah Ya Allah) was born as woman.."

Lovely. Miracle.


"Can i have a bouquet of this roses?"

Suara ceria yang terlontar halus mematikan layar semalam.

"My pleasure beautiful lady.." Senyuman lebar tersungging penuh dibibir.

"How much sir?" Tangan laju menyelongkar duffel bag dibahu.

"Eh..."

Senyum.

"Pardon me beauty lady.."

"How much?" Jari telunjuk tepat di sejambak bunga dalam genggaman old white man. The stall owners.

"Ouh!"

The bouquet of the roses digenggaman dipandang dengan senyuman lebar. "It's very costly."

"Huh?" Dua kepala tegak. In telan liur. Purse ditangan dijeling sekilas.

"Is not it?"

"Err..actually sir, usually.."

"Muslim peoples always say, the nature of a woman is like a rose."

Dua pasang mata membulat.

"Maybe because of his thorn? Or his gorgeous colourful? Or because his fragrant intensity?"

"Actually..."

"Don't you agree with me beutiful lady?" Wajah In yang bertukar cahaya dipandang tepat.

Bibir mengukir senyum. "Don't jump on me so faster.." Aina yang tenang tak beriak dikalih pandang.

"Can i go on?"

"Feel free to.." Tranquil.

"I heard so many idea in define the roses with the women. As i heard it much, my head full with irons in the fire."

Anak mata mencari reaksi dikedua-dua wajah gadis muda yang tegak berdiri dihadapannya.

"Just my question is..."

Tranquil.

"If the roses reflects the Muslim women self-esteem, why they just same as a burger that sold in the streets? Instead,they are no differences with non-Muslims right?"

"You got the point." Smiling.

Aina yang bersuara tenang dengan senyuman dikalih pandang. Kerut didahi mula kelihatan.

"Yes bravo lady." Masih setia mengukir senyuman.

"The truth still the true." Smiling. Tranquil. "But the surface doesn't same as the basis if you just viewing from the top without dive down to the basis. It is insufficient to acknowledged your define."

Kepala yang memutih kelihatan naik turun.

"Looked at the roses. Although they are a roses, one family. They still different. The colours. The shape. The blossom. The fragrant. Was totally different."

Smiling.

"It's not enough to extinguish the fire that burn in your head?" Snigger.

Kepala diangguk berulang kali dengan iringan ketawa. "You're deserved to be like a roses..."

Kening Kiri spontan terangkat tinggi.

"All the things around the world had their define. It doesn't matter. But the way you come-up with your define, describe how deep you know your Creator. No words. No acting. No pretending. It pictured on your face as your sincerity heart shining bright.."

Clam up. Numb. Mute.

"Here." Dua jambak bunga ros dihulur. "Sincerity giving from new converts."

"Subahanallah. Alhamdulillah."

Allah Almighty. Ashaduallah ilahaillallah wa ashaduanna muhammadurrosullah. Welcome to our family. Alhamdulillah. Praise be to Allah s.w.t.

Lovely. Miracle.

Some He hath guided: Others have (by their choice) deserved the loss of their way; in that they took the evil ones, in preference to Allah, for their friends and protectors, and think that they receive guidance. [Al-A'raf:30]


~Sometimes the deeper you are in, the far you place yourself. Sometimes the strangers are truly your family. It still walk away. As clock never stopped for a moment~

-ErtiHidup-
0906 April 2012
Dazz

*irons in the fire-Persoalan

Monday, April 9, 2012

Irama Sang Air Mata~




Masih lagi aku disini
sekadar merenung sebuah kekosongan yang keruh
bertelaku dalam air mata yang tak henti mengalir
melawan arus bisikan sang durjana
masih cuba berlari walau payah
masih cuba tersenyum walau sumbang..

Dada langit ku pandang
ku tahu KAU bersamaku..
hapuslah duka
hapuslah air mata
pergilah ketakutan
pergilah prasangka
Ku tahu pastikan ada hikmah disebaliknya..

Kembali aku bersimpuh dalam sujudMU
mempasak kekuatan yang berlalu pergi
menghimpun secebis cekal buat wajah yang menanti
melepaskan onak jernih bernoktah disini
agar ku tegak dalam redha..
untuk wajah-wajah kesayanganku..

Ya Rabb..
Benar..
sepilah dunia tanpa tangisan
tanduslah bumi tanpa air mata taubat
gersanglah hati-hati yang mendambakan redhaMU tanpa pelangi ujianMU..
Tara kasihMU penuh misteri
namun tiada terperi...

Andai ketentuan itu menanti
redhakanlah hati ini melepaskan ia pergi..
Indah dengan senyuman
sepi tanpa air mata
ku harap Ya Rabb...

Dazz
1600:100312