Thursday, September 29, 2011

Air Mata Kehidupan...





Bismillah...


Kadang kata tak perlu dilafaz untuk meluah,
kerana hati seakan mengerti bila mana redha itu tersemat...


Dalam deruan angin, kaki seakan berbicara...'Berjalanlah walau langkahmu sumbang...jangan berhenti walau sedetik hanya untuk menoleh! Biar mati sesak, andai jiwa mu bebas merdeka...!'


Mata yang kabur tetap tersenyum indah. Bahagia saat puisi indah kalamullah terhidang ditubir...


Benar...hidup ini indah bila mana seisinya dipandang dengan mata hati. Namun sayangnya banyak hati telah diracuni. Kabur dek kabus gelap yang berarak menutupi sirna-Nya...


Ya Rabbi...
Pada jalanan-Mu, kaki sering goyah...
Pada dunia, hati memaki...'Pentas sandiwara yang sangat kejam! Meraih berjuta saudaraku karam ditengah lautan gemilangnya, Merampas pergi mujahid-mujahid penegak obor-Mu megah! Merobek luka pada hati-hati daif...memahat kukuh memori kebinasaan hamba-Mu yang lahir dengan bisikan alunan kebesaran-Mu...


Oh Tuhan...
andai bisa suara jeritanku mampu mengegar dunia,
akan ku jerit tanpa penyesalan!


Dan kini aku lelah sendirian...
Penat pada kata yang sia-sia,
Lelah dengan layar yang penuh tipu daya,
Bingung dengan ragam yang tiada gentar... 'Megah sekali pada maksiat sendiri...!'
Rawan pada Khalifah yang hanya Islam pada nama,
Sakit pada nista yang terhidang... 'Ibu dan bapa kini tiada nilainya di mata si anak....!'
Sungguh kesakitan itu tak terhapus...lagi parah saat sendu berteriak hiba kala hati merindui kekasih-Mu Ya Rabbi... 'Ya Rasulullah s.a.w...seakan tak mampu ku bersua denganmu andai air mata itu bukan pada rindu...bukan kerana kasih...tapi kerana KECEWA yang menggunung...


Sungguh dunia membunuh lumat hatiku...
Tiada indah...
Tiada gemilang...
Hadirnya hanya mengundang duka...
Menjauhnya ia mengundang bahagia...


Kadang hati tak mengerti...
Begitu mudah mutiara itu mengalir membasahi pipi saat mata berbicara sedih...
Sedang dia, mereka, bukan sesiapa pada ku...


Jenuh mencari, aku hanya terdiam...
Kerana dia, mereka, yang 'bukan sesiapa itu' hati ini mendekat pada-Nya...
Andai berselisih bahu,
Andai bertemu pandang,
Andai terbabas bicara,
Ketahuilah...aku berterima kasih pada kalian....


Wahai Khalifah...
Padamu beribu tangan berpaut erat,
mengharap pada sebuah kata yang bernama 'KEADILAN',
mengharap lahirnya jiwa-jiwa yang mengenal makna Islam hakiki,
mendamba lautan kehidupan yang dipasak dengan keIslaman,
mencari kebahagiaan hakiki untuk bekalan disana nanti...
Kerana Kekayaan bukan jaminan,
tatkala MATI adalah pengakhiran buat setiap yang bergelar INSAN...


'Berkatalah benar walaupun pahit...' Itulah sifat Khalifah yang disegani seluruh ummah...




Wahai Murabbi...
Bicaramu penuh hikmah,
Doamu penuh barakah,
Ilmu didadamu tak kan pernah tergadai,
kerana tanpamu malaplah sebuah bangsa...


Ikhlaskan bicaramu kerana-Nya,
Pintalah kebaikan buat saudara seIslammu,
Sebarkanlah ilmu didadamu tanpa jemu,
Pergimu pasti dirindui hati-hati yang hidup,
kerana Ilmu yang kau curahkan tak kan pernah mati walau ditelan zaman...




Wahai ibu dan bapa...
Lahirnya permata yang kau damba,
menyimbah seribu syukur ke hadrat-Nya...
Mengukir selaut senyuman pada raut wajahmu,
memahat sejuta kenangan pada memori tuamu...


Andai suatu hari nanti kau dihina dan dicerca,
jangan bersedih wahai wajah tua pemangkin ummah...
Ketahuilah...saat kau dicampak anak kandungmu sendiri,
masih ramai diluar sana yang mendambakan kasih dan sayangmu...
Jangan pernah menyesali semua itu,
lihat saja kisahnya Nabi Isa a.s...
mungkin hatimu bisa tersenyum walau pahit...
Sesungguhnya Iman itu tak dapat diwarisi...


"Your Lord has decreed that you worship none but Him, and that you be kind to parents. Whether one pr both of them attain old age in your life, say not to them a word of contempt, nor repel them, but adress them in terms of honor..." [17:23]




Wahai insan yang berjiwa muda...
sesungguhnya mati bukan pada ukuran usia...
Jangan menjulang megah jiwa mudamu,
takut nanti...kau pergi penuh hina dengan kejahilan dirimu...


Pada yang tua kau megah mendabik dada,
lantang dalam bicara...
seolah dunia berjaya ditakluki tanganmu...
Hakikatnya mata tua tunduk menekur bukan kerana lemah,
Andai bisa kau mengerti...
mata tua itu penuh dengan sirna kesedihan...
Sedih pada kejahilanmu...
Luluh pada keangkuhan nafsumu...
Hiba pada palsuan duniawi yang berjaya menipumu...
Mungkinkah saat itu kau masih mampu tertawa riang....?


"Satan's plan is(but) to excite enmity and hatred among you with intoxicants and gambling, and hinder you from the remembrance of Allah s.w.t and from His worship. Will you not then abstain?" [5:91]




Wahai Hawa...
Kadang hati muak, telinga pekak, mulut bisu...
Penat dengan sandiwaramu yang tak penah tamat...
Sedih pada berjuta urat yang lantang mencegah,
Hiba dengan hatimu yang rapuh bak kaca...


Dunia ibarat pentas pertunjukkan buatmu...
Lantang berdiri demi sebuah kata pujian,
Megah pada diri dengan kurniaan-Nya...
Entah dimana menghilangnya sifat-sifat kewanitaanmu...


Pada tuntutan berhijab,
kau lakarkan sengketa...
Apakah kau mengerti sebenar-benarnya tuntutan berhijab itu...?
atau hanya satu pertunjukan untuk menonjolkan kecantikanmu...?


Ketahuilah...
Akalmu senipis helaian rambut,
maka tebalkanlah ia dengan limpahan ilmu...
Dan hatimu bak kaca yang rapuh,
maka kuatkanlah ia dengan Iman yang teguh...


Jangan mengharapkan hadirnya insan yang bergelar lelaki,
untuk datang dan membimbingmu...
Tapi persiapkanlah dirimu dengan limpahan ilmu dunia dan akhirat...
agar kau tak kecundang dilautan ujian-Nya...
kerana tak semua Adam mampu membimbing Hawanya menuju jalanan-Nya...
Andai dirimu tak ingin terkorban pada dunia,
binalah benteng akhirat, buat bekalan hidup di dunia yang penuh dengan tipu daya...




Wahai Adam...
Lahirmu sebagai khalifah untuk mentadbir seisi alam,
Lahirmu sebagai pembela berjuta manusia yang tertindas,
Lahirmu sebagai pelengkap tulang rusuk Hawa,
Lahirmu mengundang gentar dihati musuh-musuh Islam...
Lihatlah hakikat...
Pada pundakmu terhimpun seluruh tanggungjawab...
bukan hanya semata untuk mengarang sebuah ceritera cinta yang hanya secebis dari debu dunia...


Bangkitlah dari lenamu yang panjang...
Bangkitlah dari anganmu yang mengalpakan...
Sedarlah...
Kau akan dipersoalkan pada setiap tanggungjawabmu di sana nanti,
kerana tujuan setiap yang HIDUP adalah  MATI...


"Then on that (judgment) day you shall most certainly be questioned about the enjoyments you indulged in..." [102:8]




Indahnya sebuah kehidupan...
tak kan pernah bisa menandingi kerinduan pada-Nya...
Andai dunia sudah tiada manfaat buatku,
Kau jemputlah aku untuk menemui-Mu Ya Rabbi...
Sesungguhnya...itulah saat yang sering aku nanti...


Bila ku rindu,
ku bisikkan hanya pada-Mu...
Bila ku sakit,
ku mengadu hanya pada-Mu...
Bila jiwa ku lelah,
ku pohon pertolongan hanya pada-Mu...


Ya Allah Ya Tuhanku...
Sesungguhnya, tak ku mampu untuk menghilangkan rasa rindu itu,
Tak jua ku mampu sembuhkan sakit yang terparut itu,
dan tak ku berdaya hilangkan rasa lelah itu...
Hanya dengan-Mu ku punyai segalanya...


"Die not except in a state of Islam..." [3:102]




Dazz -200911;2:03-
"The Deen (code of life) before Allah s.w.t is Islam (submission to His Will)" [3:19]

Saturday, September 24, 2011

~Sleepy Guy Who Answers Bell After Six Rings~

“Adib!”

Kaki kiri yang menongkat daun pintu dengan mulut bersumbat pamphlet dipandang kalih ke arah kaunter. Kening kanan dijongket.

“Jangan lupa ambikkan baju Kak Fina…”

Kaki dikalih, pintu terus tertutup.

“Budak ni la…orang tak habes cakap pun lagi!” Farha geleng kepala.

*********
Enjin motor dimatikan. Kertas kuning ditangan diteliti. ‘Asal la asyik dia ni yang buat order!! Haisyeh…’ Hujung tudung ditiup kuat.

Ting! Tong!...

Hampir lima belas minit tercegat bagai patung cendana, Adib mengetap bibirnya kuat. ‘Haisyeh-man!...’

“Bismillahirahmanirrahim…’ Door bell ditekan buat kali keenam, dan juga terahir kalinya dek kesabaran  yang dah hilang dibawa angin monsoon kus-kus…’

“Who’s that?”

Adib terkebelakang. ‘Omooo, serabai tak hengat!’

“Your delivery Sir.”

Mata digenyeh berkali. Rambut panjang yang menutupi dahi meragukan identiti sebenar tuan punya badan.

“How much?”

“Sepuluh hinggit lima puluh sen.”

“Huh?” Kepala spontan tegak.

Adib jungkit kening. ‘Pekak badak ke hape…’

“How much?”

“RM 10.50 sir.”

“Hold on.”

Angguk.

“Here’s your money.”

“It’s…”Pintu yang berukiran kayu terus tertutup.

“Omooo!” ‘Huh, seb baik tak patah hidung mancungku! Haillam tul…’

Duit kertas sepuluh ringgit ditangan ditenung lama. ‘Naseb la badan…’

*******
Pintu kaca ditolak perlahan.

“Settle?”

Angguk kepala.

“Penat?”

“Sick-off!”

Farha gelak. “Apa pulak kali ni…”

Kaki terus melangkah ke sofa, tak lagi mempedulikan si Farha yang sebok dok gelak.

“Aku pi belakang sat, tolong tengok kaunter jap.”

Adib yang sebok menyelongkar duffel bagnya dipandang sekilas sebelum dirinya hilang dibalik tirai pemisah.
************
“Bila kau sampai?” Tangan yang sibuk menyental rambut terhenti.

Kepala diangkat dari buku. “Lepas Asar.”

“Awalnya…”

“Delivery tak banyak.”

“Ouhh… Dah makan?”

Kepala diangguk. Mata masih melekat didada buku.

“Kau dah tak pakai skoot aku kan?”

“Yup.Thanks.”

“Okie.”

Hampir setengah jam mengadap buku yang setebal tiga inci, kepala direbah ke sisi meja, menyerah kalah.

‘Huarghh…penatnya!’ Mata digosok berulang kali.

Perlahan kerusi ditolak ke belakang. Kaki dibawa ke dapur. Peti ais diselongkar laju. ‘Mak aihh, kering kontang! Ais krim pun jadi la…’

Ais krim potong ditangan kirinya digigit rakus. Remote ditekan laju. ‘Haimaa…langsung tak terpikat!’ Ibu jari terus menekan butang off. ‘Yes! Aman, makmur….’

Buku nota kecil empat seginya dicapai. Kaki dah diangkat bersila. Tangan mula berlari didada buku. Khusyuk yang amat!.



<-----sleepy guy who answers bell after six rings! Sangat annoying… --‘
         <----selalu hempap pintu before sempat ku tuntut baki lima kupang yang always dia diskaunkan untuk diri sendiri!
        <----selalu jer tak faham bila aku cakap melayu! Mat salleh malii ke hape….?


Dalam tak sedar, bibir tak lekang dari sengihan.

“Hoi!”

“Omoo, mak hang bersila..!”

Jiha gelak. “Pesal kau sengih macam orang ilang akai?”

“Bagi salam la cik kak!”

“Dah dekat 78 kali aku dok laung dari tadi…”

“Yea…yea jer!”

“Kau buat per yang khusyuk makyus tu?”

“Nothin…”

“Ye la sangat…siap tersengih macam baru lepas kena hempuk je gaya.”

“Saje exercise mulut. Tak ler kaku nak tayang sengih kat customer nanti.”

Jiha geleng kepala. ‘Bukan boley layan sangat dak freaky sorang ni…’

************
Kaki pantas berlari ke pondok telefon. Nafas ditarik perlahan. Jari pantas berlari dibutang nombor. Peluh yang mula membasahi dahi diseka jari telunjuk.

“Assalamuallaikum.”

“Waalaikumusalam. Mak! Ni Lala..”

“Ha…kamu kenapa? Macam kena kejar dek anjing je.”

Bibir tarik sengih kerang. “Dak aiih, Lala nak bagitau duit bulan ni Lala dah masukkan dalam akaun Mak. Boleh la Mak bayar yuran angah dengan achik nanti…”

“Ye… Terima kasih la Lala. Menyusahkan kamu je. Duit gaji Mak ni pun dah cukup…tak payah la kamu hantar lagi. Kamu pun tengah belajar, mana nak kerja lagi…”

“Tak pe Mak. Part-time jer tu…tak de menyusahkan pun. Lala nak gerak dah ni, kirim salam semua. Mak jaga kesihatan, Assalamuallaikum.”

*************
“Asal lambat?”

“Jalan jammed.”

“Huh?” Mata tepat mendarat di muka Adib. ‘Buang tebiat tak sedar ke hape minah ni…mana 
de traffic light pun area ni!’

Bahu dijungkit. Kaki laju melangkah melintasi Vian.

*************
“Order?”

Helaian kertas kuning dihulur. “Lapan.”

Kepala mengangguk pantas. “Orite.”

“Jangan lupa baju Kak Fina!”

‘Again…’ Kepala tergeleng kecil. ‘Most complaining-funny-sarkastik-ordering person…’

*************
Kaki terpaku tatkala rumah banglo dua tingkat terbentang megah didepan mata. ‘Apesal la sleepy guy ni je keje mengodernya…!’

Dengan malas, kaki dipaksa melangkah. Bell di gate ditekan. Jari mula membilang. ‘Yeah…this is a final countdown!’ Butang bell ditekan kuat kali keenamnya.

“Yes?”

Dada diurut perlahan.

“Your delivery Sir.”

“Ouh! Hold on.” ‘As usual…’

“Here’s your money.”

Kaki pantas berundur dua tapak.

“Dum!”

‘Yeah! As usual….’ Note sepuluh ringgit ditangan dipandang sayu. ‘Anggap je la kau 
bersedekah Adib oii..’
***********
Hujan yang mulai lebat mencurah ke bumi, memaksa Adib mencari tempat untuk berteduh. 
Badan yang hampir separuh basah terkena hujan mula mengigil. Telapak tangan digosok berulang kali. Jam ditangan kiri dikerling sekilas. ‘Alamak!!’

“Taukey, boley pinjam itu fonsel?”

“Ayaa…amoi, lu banyak basah…”

Bibir tarik sengih peace. “Lama tak main hujan la Taukey…”

Taukey gelak besar. “Lu banyak funny la. Sila…sila…”

“Toche Taukey! Lu manyak baik hati lorr….”

Kepala digeleng dengan gelagat Adib.

“Assalamualaikum Fina Bakery disini. Boleh saya bantu?”

Kepala spontan keluar aura jahat. “Haiyaa amoii…lu manyak bising lor. Gua mahu complain lu 
punya service!”

Vian cuak. “Sorry Miss…”

“Haiyaa…gua dah ada anak empat la amoi. Lu bikin gua hot ja!”

“Adib!!!”

Di sudut kedai lot simpang tiga Adib pecah gelak.

“Uid, aku stuck dalam hujan ni, korang cabut dulu la.”

“Kau kat mana?”

“Kim salam maaf zahir, batin kat bos. Tak sempat nak ambik baju dia. Adios. 
Assalamuallaikum.”

Klik.

“Adib!!” ‘Ishk-la budak ni…’

***********
Adib yang penuh teruja memerhati deraian hujan yang membashi bumi direnung pelik.

“Lu manyak suka sama itu hujan ka?”

“Huh?” Kepala dikalih mengadap taukey.

“Muka Lu manyak bercahaya bila tengok itu hujan…”

Hujung hidung digaru spontan. “He he he…”

“Itu hujan..manyak olang tara suka… Gua punya bisness pun manyak rugi bila itu hujan 
turun…”

Adib terkedu. Hati beristighfar lembut.

“Tanpa hujan, gersang la bumi…matilah seluruh tanaman dan ternakan. Jadilah bumi ibarat 
padang pasir, gersang dan haus… Mungkin pada manusia yang mewah, ianya hal yang sangat tidak menyenangkan. Tidak bagi kami insan yang daif yang hanya bergantung hidup pada kurniaan indah ciptaan-Nya. Hadirnya hujan, menitiskan mutiara kesyukuran. Datangnya siang, jasad berzikir keharuan. Sapanya sang angin menyamankan tubuh yang berkeringat. 
Tibanya malam, tubuh sujud berterima kasih… Tanpa hujan, kita tak kan dapat melihat 
pelangi…

 Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…” [Al-Baqarah:22]

Taukey terkedu. Adib dipandang lama. Dada terasa dingin, seakan salju mencurah.

“Lu naek motor pakai itu baju kurung, bukan menyusahkan ka?”

Bibir melontar senyum. “Gua dah menyelamatkan itu orang lelaki…”

“Apa pasal?”

“Bila gua pakai ini baju, diorang tak kan pandang gua dengan nafsu membuak. Bila nafsu 
diorang terpelihara, kes rogol tak kan berlaku, dunia akan aman, polis pun bahagia ja…”

Taukey terangguk sendirian.

Adib bangun dari duduk. Langit yang tadinya mendung kini berarak cerah. “Taukey…gua jalan dulu. Terima kasih kasi pinjam itu fonsel.”

Taukey angguk. “Senang-senang lu singgah la sama kedai buruk gua ni…”

“Orite taukey! Jangan lupa pelangi yang akan muncul kejap lagi…” Tangan dilambai, sebelum tubuh hilang di arus jalanan.

**********
“Nak pergi mana?”

Kepala dikalih seketika. Tangan tangkas bekerja.

“Adib?”

“Tolong bagitau lec aku emergency leave. Nanti aku explain.”

Kaki laju melangkah, tak lagi menoleh. ‘Ya Tuhan, selamatkan perjalananku. Ibu, tabahlah hatimu…’

***********
Hati tak mampu lagi menunggu. Langkah kaki dipercepatkan, Ya Allah s.w.t, aku berlindung hanya pada-Mu…’

“Assalamualaikum.”

Tak bersambut. Hati makin berdebar. Kaki pantas memanjat anak tangga kayu yang separuh usang.

Kaki terpaku. Beg terlurut jatuh ke lantai. Raut wajah ibu yang basah menujah dada. ‘Hati, sabarlah…sesungguhnya Dia bersamamu.’

“Along!” Em terkejut dengan kehadiran Adib.

Adib masih terpaku, tak berganjak walau seinci.

“Lala Adiba!” Ibu menerpa pantas.

Adib kaku tak berganjak. Tubuh lampainya yang dipukul Ibu seolah tak terkesan.

‘Oh Tuhan, ampuni aku kerana parut luka yang aku toreh di hati Ibu…’

“Kenapa Lala buat Ibu macam ni? Ke mana hilangnya Iman kamu Lala? Tak takut pada-Nya?” Tubuh ibu terlurut jatuh ke papan lantai.

‘Kuatkan hamba-Mu ini Tuhan…’

“Kenapa ni Em?” Bibir memecah kebisuan.

Emran mendongak memandang mata Alongnya. Sesaat kepala dikalih ke ruang tamu rumah.
Adib kerut kening. Pelik dengan kehadiran tiga susuk tubuh di ruang tamu rumah usang arwah ayahnya.

“Cakap bagi clear boleh?”

Emran tertunduk, tak berani melawan pandang.

‘Ehem…’

Mata beralih ke arah pemilik suara itu. Tajam menikam.

“Iqram Ashfan…”

Sepi.

“Maaf atas kehadiran kami…” Wanita anggun yang bersimpuh disebelah sang suami bersuara.

“Puan, maafkan kami. Biar saya bincang dengan Lala…” Puan Latifah menyampuk pantas.
Tubuh Adib diheret ke bilik.

“Kenapa Bu…? Lala tak faham.”

“Mereka datang nak selamatkan maruah kamu.” Hujung baju kurung di sapu ke mata.

Dahi berkerut hebat. “Selamatkan maruah? Kenapa?”

Ibu pandang Adib lama. “Seluruh kampung dah bercakap pasal kamu…”

Adib tarik nafas. ‘Sandiwara apakah ini Ya Allah s.w.t…’

“Kartini dah cerita semua kat Ibu.”

Mata dipejam rapat. ‘Andai ini kifarah-Mu buatku Ya Rabbi...pasrahkan aku..’

“Walau kita miskin, Ibu tak pernah ajar anak Ibu perkara terkutuk dan dilaknat Allah s.w.t. Duit bukan segala-galanya Lala. Hati Ibu hancur lumat Lala…ibu asuh dan belai kamu bak permata, namun kaca yang Lala hadiahkan pada Ibu…

Kenapa murah benar harga dirimu? Diserah bila dirayu, didagang bila terdesak? Biar mati dek kelaparan Lala! Dari mati dalam kehinaan pada-Nya…”

‘Air mata hina ini tak kan pernah membasuh luka yang terpahat di hati Ibuku Ya Rabbi…’

“Maafkan Lala untuk penghinaan yang Ibu telan, ampunkan Lala untuk kata-kata cercaan yang dilempar buat Ibu…” Tangan tua si Ibu dicapai dan dicium lama.

‘Ya Tuhan…andai kebahagiaan itu dapat digapai tanpa harus derita menyapa, pasti tiada air mata syukur gugur buat-Mu…’

Air matanya gugur jua menitis ke tangan si Ibu. ‘Andai luka itu bisa terparut hanya dihatiku, betapa air mata ini kan tersenyum bahagia Ibu…’

*********
Langkah terhenti. Tubuh disimpuh tidak jauh dari tetamunya.

“Lala, kami…”

“Maaf atas segala yang berlaku. Kisah yang tak pernah tercatat di mahar-Nya, kisah yang 
merobek sekeping hati tua. Jua kisah yang mengheret diri tuan, dan puan sekeluarga.”

“Lala, kami ikhlas.”

Kepala diangkat dari papan lantai.

“Ikhlas pada sebuah fitnah?”

Puan Rania terdiam.

“Maaf. Niat baik Puan bukan jalan penyelesaian. Mungkin ianya mampu menutup maruh yang dah tercela itu. Dan pastinya akan membuka ruang tohmah yang tak kan kunjung putusnya…

Mana mungkin enggang bisa terbang seiring dengan pipit. Mungkin hari ini Puan mampu menelan tohmahan-tohmahan itu, namun belum tentu untuk sepuluh tahun mendatang… Pengakhirannya, maruah itu tetap bukan milik kami… Dan tubuh usang itu tetap akan dicerca, malah dipandang sinis…”

“Mungkin awak cukup hebat untuk menghadapinya, bagaimana tubuh usang itu?”

“…yang miskin selalunya lemah. Seolah hak itu tak punya harga buat kami…”

“Ini bukan soal hak Cik Lala Adiba…tapi soal maruah! Soal hati seorang Ibu!”

Mata Iqram Ashfan dipandangnya tajam. “Apa guna Iman didada, andai yakin pada-Nya tiada? Apa guna lafaz syahadah, andai diuji terus menyerah kalah? Apa guna doa sebagai senjata Mukmin, andai musibah menyapa tak putus menyalahkan takdir? Apa guna lahirnya sebagai Islam, andai Islam itu hanya sekadar pada nama….”

Mata jatuh ke papan lantai. ‘Ya Allah, tabahkanlah hamba-Mu ini…’

“Jika kedatangan tuan, puan mampu menyelamatkan maruah kami…ianya atas kehendak Allah s.w.t. Tak kan mungkin saya mampu menolaknya, walau berkali hati menidakkan. 
Maafkan bicara yang mengguris rasa. Saya perlukan masa…terima kasih untuk budi yang tak terbalas. Assalamuallaikum…”

Ruang tamu ditinggalkan. Kaki terus melangkah tanpa henti, seakan menempa jalanan yang lurus.

“Ayah…maafkan Lala untuk parut di hati Ibu. Lala nak jadi sekuat ayah, bersabar walau sering ditohmah, senyum walau hati menangis, tenang walau jasad lelah, kembali sujud pada-Nya saat dinginnya pagi menyapa.

                Bukan ego yang Lala julang…tidak hati kecil Ibu sebagai gadaian. Peritnya sebuah kehidupan mengajar Lala erti kebesaran-Nya. Indahnya palsu dunia, mendekatkan Lala pada kalamullah-Nya. Pada siapa Lala harus bergantung harap, andai bukan pada-Nya… Disaat Lala sakit, disaat Lala lelah, disaat Lala tak mampu melangkah…Dia menyembuhkan, Dia yang mendakap erat, Dia yang menguatkan semangat. Hanya Dia yang selalu ada…hanya Dia, Allah s.w.t.”

Air mata laju menuruni lekuk pipi.

Dari kejauhan, mata itu tak lepas memandang…

*********
Di kedinginan malam, raut wajah tua yang terbaring lesu direnung lama. Jejari seakan tak mampu diam kaku. Wajah lembut yang lesu itu diusap lembut. ‘Ibu, maafkan Lala…’

Puan Latifah tersedar dari lena. Adib yang basah dalam telekung solatnya ditarik ke pelukan. 
“Maafkan Ibu kerana meragui Lala…”

“Ibu tak pernah salah dengan Lala. Lala yang banyak melukakan hati Ibu…ampunkan Lala.”
Ibu geleng kepala. “Lala Adiba, anugerah terindah buat Ibu dan arwah Ayah…kebanggaan Emran dan Syahir.”

Kedua-duanya tenggelam dalam air mata…

*********
“Iq dah hilang akal?”

“Ma…”

“Rania, mengucap…” Encik Farouq bersuara lembut.

“Abang tak dengar apa budak ni cakap? Dia nak bagi tahu penduduk kampung, yang dia upah orang untuk fitnah Lala…!”

“Mama…”

“Kita dah sedaya upaya nak tolong dia Iq. Dia yang menolak, kenapa Iq pulak yang nak pikul semua fitnah nonsense tu? Macam mana dengan kami?”

Iqram Ashfan tunduk menekur karpet.

“Betul ni keputusan Iq?” Encik Farouq bersuara.

Muka diraup payah. “Dia tak pernah bersalah…”

“Iq pun!”

“Rania…”

Iqram Ashfan tersenyum payah. “Kadang tak semua yang kita nak, kita akan dapat… Namun itulah jua yang kita kejar…kerana hati yang tak pernah puas dengan apa yang ada. Kadang diri tak sedar, semata kerana menurut nafsu hak mereka yang lemah direnggut kejam. Dunia semakin dalam gengaman…namun kasih-Nya makin kabur dari penglihatan. Segala yang kejam kelihatan baik, segala yang haram kelihatan halal...dunia semakin dicari, akhirat semakin melambai jauh…”

Puan Rania terduduk.

“Pada si miskin, si kaya menagih pengertian. Pada si miskin, si kaya meminta ehsan bakti. Pada si miskin si kaya tunduk kalah. Pada si miskin…si kaya tak pernah bernilai, pada mereka si kaya tetap miskin malah tak ubah dari si papa kedana…”

“Papa terima keputusan Iq.”

“Thanks Pa…”

Puan Rania yang terkedu dikerusinya dihampiri. “Maafkan Iq…”

**********
“Adib, kek coklat ni!”

Dahi spontan ditepuk kuat. Badan dipusing kembali.

“Lupa!”

“Kau memang! Tak pernah berubah…”

“Yeah…blabbering!”

Kelibat Adib yang hilang dalam perut kereta dihantar dengan pandangan matanya. Vian geleng kepala. ‘Adib! Adib!’

**********
“Puan, your cake.”

“Oh, thank you so much Adib!”

“Sama-sama.”

“Jangan lupa malam ni yer…”

“Insyallah puan. Saya keluar dulu.”

“Iye…”

Mejanya dihampiri. Duffel bag dilurut dari bahu.

“Hai Dib! Draw dah siap?”

“Hyep! Yang mana?”

“Dapur Datin Ros.”

“Ouh. Jap.”

“Nanti pass kat Leman.”

“Orite.”
***********
“Betul ke ni rumahnya Dib oii?”

“Ye la kot.” Kertas kecil ditangan kembali dibaca.

“Kau biar benar. Sat gi tak ke haru kalo salah rumah… Malu oden!”

Adib tarik sengih. “Bila lagi nak merasa jadi pames...”

“Banyak la…”
***********
“Assalamuallaikum…”

“Waalaikumusalam. Haa Adib dah sampai pun! Jemputlah masuk…”

“Ye Puan…”

“Ape pulak berPuan-puan, panggil jer kak Jas.”

Adib angguk kepala. ‘Mak aih, rumah ke zoo Negara ni!’ Mulut dah terlopong luas.

“Dib…ni bufday party or lawatan ke zoo Taiping…?”

Adib geleng kepala. Mulut seakan terbisu akibat terpegun yang melampau.

“Adib, Vina…jemputlah makan.”

“Iye…”

Pinggan pantas disambar.

“Kalau kak Fina pakai sebijik macam budak tu, gerenti aku ingat real lion punyer!” Vina 
snigger.

Adib geleng kepala. “Kau ni…luar benua punya otak lor!”

“Seyes beb! Siap dengan kostum tu…memang la meriah sakan!”

*********
“Sape tu Kak Jas?”

“Mana?”

“Kat meja buffet tu.”

“Ouh, designer akak.”

Kepala mengangguk.

“Kenapa? Kenal ke?”

“Seems ya…”

“Pergi la tegur, mana tau member lama ke…”

Jam ditangan kiri dikerling. “Iq balik dulu, esok flight pagi…”

“Ok, take care. Kirim salam kat Ma ngan Pa.”

“Insyallah, Assalamualaikum.”

“Waalaikumusalam.”
*********
“Makin lawa anak Ibu ni…”

Adib tergelak. “Ibu bodek Adib eh?”

Puan Latifah tersenyum. Rambut Adib diusap kasih.

“Ahad lepas ada orang masuk meminang…”

Senyap.

“…kalau Adib setuju, bulan sebelas majlisnya.”

“Ibu setuju?”

Bahu Adib ditampar lembut. “Apa pulak tanya Ibu!”

Adib gelak. “Pilihan Ibu kan terbaik… Mana la tahu, dia macam arwah Ayah…”

“Insyallah…”

“Really?” Adib bangkit dari pembaringan. Ibunya dipandang lama.

Puan Latifah tersenyum. “Kadang apa yang kita lihat,  tak sama dengan apa yang kita rasa. 
Kerana mata kita sering tertipu… Istikharahlah. Insyallah, Dia permudahkan…”

Adib mengangguk perlahan.




**********
"Lala..."

Pintu diketuk berulang kali.

“Kejap Bu...”

“Mentua kamu dah nak balik ni…”

“Yea…”
***********

“Mana Ibu?”

“Kat bawah. Cepatlah Along…dari tadi diorang tunggu.”

Kaki pantas menuruni tangga rumah.

“Haa…muncul pun pengantin.”

Adib sengih kerang. ‘Alahai perut…ni semua salah engkau!’

“Papa pulang dulu. Jaga diri.”

Kepala diangguk. Tangan Bapa mertuanya disalami.

“Cantik anak Mama ni…”

Kepala dikalih ke sisi kanan. Rahang terbuka luas.

“Puan?” Adib bingung. ‘Apakah…’

Adib ditarik ke pelukannya. “Terima kasih kerana terima anak Mama. Terima kasih kerana 
sudi jadi menantu Mama…dan terima kasih untuk pengertian tentang sebuah kehidupan…”
Adib terkaku cuma. Tiada lafaz yang terkeluar dari bibirnya. ‘Am I dreaming…’

Puan Latifah memandang kelibat kereta besannya sehingga kelibat itu hilang ditelan kepekatan malam. ‘Alhamdulillah Ya Allah s.w.t…Kau permudahkan segalanya.’

Kaki mula menyusun langkah. Tubuh gempalnya terus melanggar tubuh Adib yang masih kaku ditempat berdirinya.

“Kamu ni kenapa?”

Bahu Adib digoncang perlahan.

“Huh?”

“Yang Lala terpacak tengah-tengah alam ni apa pasal pulak? Dah…pergi naik. Tak elok lama-lama kat luar…”

Kepala spontan mengangguk. ‘Kau tak mimpi la Dib!’ Kepala digeleng kuat. ‘Tapi tu kan memang Puan yang hari tu… Salah orang kot!’ Kepala sekali lagi mengangguk laju. ‘Pelanduk dua serupa jer…’ Kaki mula melangkah.

“Haa…”

Adib terkebelakang. “Omoo…”

“Sori…sori Long!”

Kepala digeleng. “Kenapa?”

“Abang Iq cari Along.”

“Huh?”

“Dia kat bawah.”

“Sape?”

“Abang Iq.”

“Ye! Sape tu?”

Em ternganga. ‘Biar betik Along aku nie!’ “Your husband laaa…!”

Kepala dicondong ke kanan. Sesaat…

“Ouh!Okie.”

Emran geleng kepala.
*********

Mata melilau ke sekeliling dapur.

‘Tak de pun.’

Kaki dah berkira untuk melangkah sebelum namanya diseru dari belakang.

“Lala…”

Dada diurut perlahan. ‘Haimaa…’

Kepala dipusing kalih.

“Awak?”

“Saya?”

Liur ditelan. “Kenapa awak ada kat sini?”

Jari telunjuk tepat ke dada sasanya. “Me?”

Kepala diangguk.

“Ouh…saya kahwin hari nie.”

“Ouh! Tahniah…”

Kepala diangguk dengan senyuman lucu dihujung bibir. “Thanks.”

“Nice dress.”

Adib pandang baju ditubuh. “Not mine. But thanks.”

“Sure…” Iqram Ashfan snigger.

“Chopp!” Kepala dah naik turun. Sekejap melekat dibajunya, sekejap di baju Iqram Ashfan. 
‘Jangan cakap dia yang aku kahwin…’

“Kenapa sama?”

“Tak kan nak pakai warna lain-lain? Macam kahwin perang la pulak.”

“Tak.” Kepala digeleng laju. “Jangan cakap awak kahwin dengan saya…” Terkeluar juga 
akhirnya…

Iqram Ashfan mengangguk.

Adib jatuh rahang. ‘Omoo…!’
*********

“Rushingnya…”

“I’m late!”

Vian kerut dahi. “Bukan Iqram fly-out ke?”

“Jap lagi dia sampai.”

“Ouh! Patut la…”

“Adioss. Assalamuallaikum…”

“Waalaikumusalam…”
*********

Ting! Tong!

“Sayang, tolong get the door…”

“Ok.”

Asam pedas ditinggalkan. Kaki pantas melangkah ke ruang tamu.

“You delivery Miss.”

Adib kerut dahi.

“Delivery eh sayang?” Iqram bersuara sayup dari tingkat atas.

“Yup…”

“Suruh dia tunggu jap.”

“Kejap yer dik.”

Kepala diangguk.

Bahu Lala dipeluknya dari belakang. “Sorry a bit late. How much?”

Adib hanya diam memerhati.

“RM10.50 sir.”

“Here.”

Pintu berwarna putih itu terus ditutup. Suara budak penghantar yang menuntut baki lima 
kupangnya masih kedengaran diluar rumah.

Adib kaku.

“Sayang?”

Perlahan kepala didongak memandang Iqram Ashfan. Lama matanya hilang dibalik anak 
mata sang suami.

“Ok tak ni?”

“Are you the sleppy guy who answers bell after six rings?”

Iqram Ashfan tergelak.

“…and the stingy guy, that never pay enough but keep ordering!”

“Yup…!”

Adib speechless tahap beruang. ‘What a small world…’

“Cantik sayang lukis gambar Iq…”

“Gambar?”

“Your little book note.”

“You did it???”

“…'ter' la sayang...”

“Iqram Ashfan!”

Kedua-duanya saling berkejaran…

‘Terima kasih untuk pelangi terindah-Mu Ya Rabbi…’

********

Iqram Ashfan – Kebahagiaan bak permata dilautan, sukar dicapai, payah digenggam dan tak mungkin di warisi…

Lala Adiba – Kebahagiaan tak mungkin bisa dirasai andai hati tak mengenal makna derita… Ujian dari-Nya tak mungkin menjadi kifarah atas dosa-dosa lalu, andai persoalan sering terungkap dibibir. Kadang tak semua persoalan punya jawapan, sepertimana Allah s.w.t sembunyikan pelangi di balik hujan...

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah s.w.t; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah s.w.t nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah s.w.t Maha Mengetahui segala sesuatu…” [At-Taghaabun:11]

 TAMAT

Dazz-