Friday, December 2, 2011

Poligami-Senjata Propaganda Barat.



Kadang...
dalam ceteknya ilmu,
hati membuta tuli menegak...
tegar melafaz,
sedang akal jahil tentangnya...
lantas dalam tak sedar,
hukum Allah s.w.t dijadikan mainan...
sedang diri murtad sia-sia...

“Murtad ini bukan orang Islam masuk Kristian sahaja tetapi mereka yang menolak hukum Allah, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal..." [Datuk Tuan Ibrahim Tuan Man]

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya..." (Al Isra:36)

Mengapa harus mempersoal pada ketetapan-Nya...?
Sedang setiap anggotamu kurnia-Nya...
Bahagia bukan terletak pada agung cintamu...
sedang Rabiatul adawiyah, kekasihnya Allah s.w.t
bermula dengan penuh sengsara dalam mencari sebuah 'bahagia....'

Bahagia bukan bererti setia...
tidak juga penaklukan...
kerana rasa itu milik-Nya...
sebagaimana pantai yang terkadang pasang...
dan kan tiba masanya ia kembali surut...
begitulah cinta semu agungan manusia...

Redha tak semudah bicara...
Namun percayalah...
tikanya Dia memilih-Mu,
sesungguhnya ketahuilah...kau lah wanita yang bertuah dalam berjuta yang lainnya...

Saatnya matamu bergenang,
pujuklah hatimu...
'Tidak Dia uji, diluar kemampuanmu dan yang sia-sia...'
Saatnya hatimu dipalu kuat,
'Percayalh ganjaran buatmu disana nanti tiada bandingannya...'

Usahlah berbicara,
andai ianya mengundang jernih dibening matamu...
Usahlah meratapi,
kerana takdir perjalananmu milik-Nya...
Belajarlah menerima dan sabar...
kerana disitu kan terselitnya erti redha dan bahagia...

Belajarlah diam dari banyaknya bicara,
Belajarlah bersyukur dari sebuah musibah,
Belajarlah redha dari sebuah tangisan,
Belajarlah mengerti pada sebuah ketentuan...
kerana banyaknya persoalan mematikan akal...
dan banyaknya penyesalan menjadikan hatimu keruh, dan makin menjauh dari-Nya...



Islam menetapkan peraturan-peraturan yang lengkap termasuk dalam hal poligami atau mempunyai isteri lebih dari pada satu orang dalam satu waktu. Poligami merupakan salah satu persoalan yang kontroversial dan paling banyak dibicarakan.  Di satu sisi, poligami ditolak dengan berbagai macam argumentasi baik yang bersifat  normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan jantina. Para penulis barat sering mendakwa bahawa poligami adalah bukti ajaran islam dalam bidang perkahwinan yang sangat  diskriminatif terhadap wanita. Sementara pada sisi lain, poligami dianggap memiliki sandaran normatif yang tegas dan dipandang sebagai  salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena kecurangan dan prostitusi.

Pandangan Islam Tentang Hukum Pernikahan Poligami
Allah Swt. Berfirman yang bermaksud: “Nikahilah oleh kalian wanita-wanita (lain) yang kalian senangi dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kalian khuatir tidak akan dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja…” (QS an-Nisa’ [4]: 3).
Atas dasar ini, keadilan yang diwajibkan atas seorang suami adalah bersikap seimbang di antara  isteri-isterinya sesuai dengan kemampuannya, iaitu dalam hal bermalam atau memberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain, bukan dalam masalah cinta dan kasih sayang yang memang berada di luar kemampuan manusia.

1. Imam Bukhari r.h. berkata (hadits 5230):
“Qutaibah meriwayatkan kepada kami dari Laits dari Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah dia berkata,  saya mendengarkan Rasulullah s.a.w. bersabda dari atas mimbar, “Sesungguhnya Bani Hisyam ibn Mughirah meminta izin untuk menikahkan putri mereka dengan Ali ibn Abu Thalib Maka aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan. Kecuali putra Abu Thalib ingin menceraikan putriku dan menikah dengan putri mereka. Karena dia adalah darah dagingku, membuat aku sedih apa yang menyedihkannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya.”

Hadits Sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2449), Abu Daud (2071), Turmudzi (3867, Ibnu Majah (1998), Nasa`i di dalam al-Fadhâ`il (265) dan di dalam al-Khashâ`ish (130), dan Imam Ahmad (4/328), dan di dalam kitab Fadhâ`il al-Sahabat (Keutamaan Sahabat) (1328).

2. Imam Bukari r.h. berkata (hadits 3729):
“Abu Yamân meriwayatkan kepada kami dari Syu’aib dari Zuhri dia berkata, Ali ibn Husain meriwayatkan kepadaku bahwa Miswar ibn Makhramah berkata, Sesungguhnya Ali meminang anak perempuan Abu Jahal. Kemudian Fatimah mendengar tentang hal itu lalu kemudian dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata, “Kaummu mengira bahwa kamu tidak marah karena putri-putrimu. Dan ini Ali (ingin) menikahi anak perempuan Abu Jahal.” Lalu Rasulullah s.a.w. berdiri, maka dia pun berdiri. Kemudian aku mendengarkan Beliau ketika mengucapkan tasyahhud (seperti pada khutbah) dan berkata, “Amma Ba’d, Aku telah menikahkan Abu Âsh ibn Rabî’ kemudian dia berbicara kepadaku dan jujur kepadaku.  Dan sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku dan aku tidak senang ada sesuatu yang menyakitinya. Demi Allah, tidak berkumpul anak perempuan Rasulullah s.a.w. dengan anak perempuan musuh Allah pada satu laki-laki. “Kemudian Ali meninggalkan pinangannya”.

Hadits Sahihd dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (halaman 1903-1904), Abu Daud (nombor 2069), Ibnu Majah (hadits (1999) dan al-Muzzi menisbatkannya juga kepada riwayat Nasa`i.

3. Imam Bukhari r.h. berkata (hadits 3110):
“Sa’id ibn Muhammad al-Jarmi meriwayatkan kepada kami dari Ya’qub ibn Ibrahim dari ayahnya bahwa Alid ibn Kutsair meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn ‘Amar ibn Halhalah al-Daili dari Ibnu Syihab dari Ali ibn Husain bahwa mereka ketika datang ke Madinah dari tempat Yazid ibn Mu’awiyah pada waktu terbunuhnya Husain ibn Ali r.a., Miswar ibn Makhramah menemuinya lalu berkata kepadanya, “Apakah kamu ada keperluan yang bisa kamu perintahkan aku dengannya.” Lalu aku jawab kepadanya, “tidak ada.” Lalu dia berkata, Lalu apakah kamu (mau) memberikan kepadaku pedang Rasulullah s.a.w. itu? Maka sesungguhnya aku khawatir kaum tersebut mengalahkanmu atasnya (lalu dapat merebutnya). Dan demi Allah, jikalau kamu memberikannya kepadaku niscaya tidak akan mereka dapatkan selama-lamanya sampai dicabut nyawaku. Sesungguhnya Ali ibn Abu Thalib pernah melamar putri Abu Jahal atas Fatimah a.s. Kemudian aku mendengarkan Rasulullah s.a.w. menyampaikan khutbah kepada orang-orang dalam masalah itu dari atas mimbarnya ini-dan aku ketika itu sudah dewasa (baligh). Lalu Beliau berkata, “sesungguhnya Fatimah adalah dariku dan aku sangat khawatir dia mendapatkan fitnah pada agamanya.” Kemudian Beliau menyebutkan kerabatnya (dari ikatan perkawinan) dari Bani Abd Syams dan memberikan pujian kepadanya dalam kekerabatan mereka dengannya. Beliau berkata, “dia berbicara padaku maka dia jujur kepadaku, dan dia berjanji kepadaku maka meyempurnakan janjinya kepadaku. Dan sesungguhnya aku tidak mengharamkan apa yang halal dan tidak menghalalkan apa yang haram. Akan tetapi, demi Allah, tidak berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah selama-lamanya.”

Hadits Sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2449), Abu Daud (2069), Ibnu Majah (1998), dan dinisbatkan oleh al-Muzzi kepada riwayat Nasa`i.

Hadits no.1 memang jelas menggambarkan penolakan Rasulullah s.a.w terhadap rencana Ali untuk menikah kembali. Namun, hadith inilah yang sering dijadikan alasan orang-orang yang menolak poligami.

Padahal, jelas dalam hadith ke.2, dijelaskan mengapa Rasulullah s.a.w. menolak rencana Ali menikah lagi kerana tidak berkumpul anak perempuan Rasulullah s.a.w. dengan anak perempuan musuh Allah s.w.t pada satu lelaki.
Hadist no.3 malah lebih mudah menyatakan bahawa poligami itu halal untuk dilakukan. Rasulullah s.aaw. tidak mengharamkan apa yang halal dan tidak menghalalkan apa yang haram. Dalam hal ini, yang halal adalah menikahnya seorang lelaki lebih dari satu isteri.

Sungguh aneh, sahabat Rasulullah s.a.w, salah satu orang yang pasti dijanjikan syurga oleh Allah s.w.t, melakukan perbuatan yang dilarang. Terang sekali dalam huraian hadith tersebut, Ali tanpa persetujuan Fatimah dan Rasulullah s.a.w melamar puteri Abu Jahal. Namun, satu hal yang tidak diketahui Ali adalah bahawa Abu Jahal adalah musuh Allah s.w.t. N/A 10:13, 8 Desember 2006 (UTC)

Hukum Poligami.
Sebagaimana telah kita ketahui bahawa hukum menikah terbahagi kepada wajib, sunat, atau makruh sesuai dengan keadaan seseorang. Kita dapat melakukan hal yang sama terhadap poligami, dan kemampuan memenuhi hak-hak isterinya. Pada dasarnya, poligami itu hukumnya mubah (boleh) seperti yang diisyaratkan oleh firman Allah s.w.t dalam Surat An-Nisa’ ayat 3. Ayat ini menjelaskan kehalalan poligami dengan syarat dapat berlaku adil. Jika syarat ini tidak dapat dipenuhi di mana suami yakin bahwa ia akan melakukan kezaliman dan menyakiti isteri-isterinya, dan tidak dapat memenuhi hak-hak mereka dengan adil, maka poligami menjadi haram. Jika ia kemungkinan besar menzalimi salah satu isterinya, maka poligami menjadi makruh. Namun jika ia yakin akan terjatuh kepada perbuatan zina maka menjadi wajib atasnya. (Arij, 2003: 32). 

Islam tidak menjadikan poligami sebagai sebuah kewajiban atau hal yang disunahkan bagi kaum Muslim, tetapi hanya menjadikannya sebagai sesuatu yang mubah, yakni boleh dilakukan jika memang dipandang perlu. Imam Asy-Syafii menyatakan bahawa telah diriwayatkan dari Ali r.a., Umar r.a., dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a., bahkan tidak ada seorang sahabat pun yang menentang kebolehan poligami ini hingga batas maksima empat orang. Pendapat serupa juga dituturkan oleh Abu Syaibah dari mayoritas thabi’in, Atha’, Asy-Syafi’i, Hasan, dan sebagainya.

“Kerana poligami merupakan hukum syariah yang tercantum di dalam al-Quran dan Hadis Nabi s.a.w. secara jelas, maka penentangan/penolakan terhadap kebolehan hukum poligami sebenarnya merupakan penentangan terhadap hukum Allah s.w.t. Dan inilah yang sebenarnya sedang terjadi. Peradaban Kapitalis dan propaganda Barat sendiri terus berupaya menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang Islam. Mereka telah menggambarkan hukum tentang poligami-sebagaimana hukum Islam yang lain seperti jihad dengan gambaran yang keji dan busuk. Faktor utama yang mendorong mereka menistakan poligami semata-mata untuk menikam Islam dengan melabelkan ‘membela perempuan’. Kalau memang benar membela perempuan, mengapa mereka diam dan bahkan mendukung pornografi dan pornoaksi yang secara faktual merendahkan maruah dan martabat perempuan. Mengapa mereka membiarkan perselingkuhan/perzinaan yang nyata-nyata merugikan perempuan (para isteri)? Alasannya jelas, kerana pornografi, pornoaksi, dan perzinaan adalah produk andalan liberalisme/sekularisme.

Na’ûdzu billâh!

Sesungguhnya Islam itu mudah...
"Allah mengkehendakan kamu beroleh kemudahan dan Ia tidak mengkehendaki kamu menanggung kesukaran." -al-Baqarah:185-

Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu. Aku tidak sekali-kali menghendaki sebarang rezeki pemberian dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah Dialah sahaja Yang Memberi rezeki (kepada sekalian makhlukNya, dan Dialah sahaja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat Kukuh kekuasaanNya.
(Al Zhariat ayat 56 hingga 58)


P/S: Diharapkan kepada seluruh muslimin dan muslimat tidak mudah melatah dengan segala persoalan berkaitan dengan hukum-hakam Islam, sebaliknya bertanyalah kepada pihak yang sepatutnya (para Alim Ulama’) bagi mendapatkan penjelasan yang sebenar!
Al-Hamra' : Islam adalah penyelesaian kepada segala masalah,kenapa orang pilih yang HARAM juga???

~Tepuk dada, tanya Iman...~

No comments:

Post a Comment