Saturday, August 20, 2011

Air Mata Tarbiyah~




Pada lautan tarbiyah aku menangis kesyukuran…
Sendu yang sekian lama sepi, kini membuak penuh syahdu
Ternyata “Sesungguhnya, jika Allah s.w.t mencintai seorang hamba, maka DIA tenggelamkan hamba itu dalam cubaan…”

Ujian-Mu yang penuh sesak melemaskan aku…
Pada garangnya sinar mentari aku mengeluh pantas,
Pada pekatnya malam aku gelisah tak sudah…
Hati menjerit demi sejalur ruang damai yang didamba…
Kaki menyusun langkah,
lautan dunia yang penuh sesak diredahi,
pada sebuah pesta yang penuh bingit kaki terhenti,
ruangan kosong itu kini dipenuhi…
ternyata keseronokan itu bisa mendamaikan hati…
Ah, dengan wang segala-galanya mudah!...

Saatnya diri hilang dari puncak kegemilangan,
kawan jadi lawan…
yang dulunya manis, kini makin kelat…
diri terbuang seolah jijik lagi hina…
tak dipandang, bahkan dicampak jauh…
tak ubah seakan pengemis…

Diri dipaksa berdiri meneruskan sisa hari…
hati tak putus mencari akan damai yang hakiki…

Pada palsunya kasih bernama CINTA aku berpaut…
pada si dia luka dihati terawat,
pada si dia sepi yang menghiasi diri terisi,
pada si dia diri ini mengangumi,
pada si dia diri ini sering merindui,
pada si dia aku bergantung harap, untuk mengemudi jalanan yang bakal dihadapi…

Pada lautan kasih yang bersalut kepalsuan aku tenggelam…
diri yang sekian lama hanyut terus karam…
damai yang dicari langsung tak menyapa…

Ujian demi ujian silih berganti menjenguk diri,
butir-butir keluhan tak pernah putus dari ulas bibir,
dahan-dahan yang dipaut digenggam seeratnya,
mengharapkan padanya diri terus berdiri…
lupa yang mereka jua adalah milik-Nya…

Saat bibir tersenyum gembira,
hati kembali disapa duka…
sekelip mata kasih yang hadir hilang membawa diri…
CINTA yang dicurah seakan tak bernilai…
semudah pemadam rasa itu pergi…

Tiada yang tinggal…
hanya jasad kosong yang masih bernyawa…

Bumi masih berputar,
matahari masih saling berganti dengan si bulan…
Walau payah, diri digagahi…
mencari sebuah hakikat yang masih lagi kelam tak bersuluh…

Saat kelopak mata terbuka,
diri disapa lagi dengan ujian…
Serasa hati hampir mati ketenatan, tak tertanggung lagi…
Dijengah dengan khabar penyakit barah bukannya khabar indah…
namun bibir tak lagi terkeluh,
hanya pandangan kosong menembusi dinding,
akal seolah tak mampu memahami rasa yang tertafsir dihati…

Kudrat yang masih tersisa mengheret kaki melangkah…
Pada remangnya senja,
kepala didongak ke dada langit,
hati yang tenat bergetar halus…
bibir yang tak lekang dari keluh  berzikir memuji kebesaran-Nya…

Pada indahnya alam yang menghiasi,
Pada merdunya kicauan suara burung yang berterbangan bebas,
Pada tenangnya sungai yang mengalir indah,
Pada harumnya bunga yang mekar mewangi,
Pada hijaunya rumput yang mendamaikan jiwa…
Air mata gugur membasahi pipi…
Agungnya ciptaan-Mu Ya Rabbi…
menarik akal jahil ini berfikir…
menyentak diri ini bermuhasabah…
mengembalikan aku pada hakikat penciptaanku…
Allahu Ya Rabbi…Agungnya Kuasa-Mu…
Hati ini menangis insaf…

Setelah sekian lama jasad kaku, tak mengenal pencipta Agungnya…
kini jasad hina ini kembali tunduk sujud pada-Nya…
menangisi sekalung bongkak yang dulunya dilontar megah,
menyesali setiap noda dosa yang dilakar alpa…
demi mengharapkan secebis keampunan-Nya…
untuk menggapai sejalur hidayah,
agar jasad hina yang gelap sisinya ini kembali disirami sinar taqwa-Nya…

Kini air mata menjadi saksi penyesalan noda dosa silamku…
Di setiap jejakku yang beralaskan bumi ciptaan-Mu,
air mata ini tak henti mengalir…

Kini aku mengerti…
tiada yang lain untuk ku bergantung harap melainkan hanya kepada-Nya semata…

Telah ku redahi seluruh daerah dunia…
Tak ku temui damai yang ku cari pada megahnya nilai wang kertas…
tak ku temui damai yang ku cari pada gahnya hiasan dunia…
tak ku temui damai yang ku cari pada keseronokan yang penuh dengan maksiat…
tak ku temui damai yang ku cari pada cinta seorang insan…
tiada yang ku temui melainkan sebuah kekecewaan…

Saat ujian yang menyeri hari disingkap,
tiada lain yang kedengaran melainkan kata syukur yang beralun dibibir…
air mata keinsafan bak beranak sungai dipipi,
tak ku tahan, tak ku seka…
moga kesakitan atas kejahilan ku dibawa pergi bersama-samanya…

Pada gemilangnya dunia,
aku menyerah diri,
mengharap sejalur rasa yang mampu mendamaikan jiwa…
namun ternyata semua itu hanyalah palsu…
hilang saat dirimu tak bernilai,
kejam saat dirimu tiada daya,
membunuh saat dirimu tersungkur rebah,
tiada sekelumit kebenaraan dan kebahagiaan yang dijanjikan,
hanya campakan atas palitan dosa-dosa ke lembah hina yang pasti,
sebagaimana yang tercatat didada agung kalamullah…
“Dan untuk orang-orang yang melakukan kejahatan (syirik dan maksiat), balasan tiap-tiap satu kejahatan mereka ialah kejahatan yang sebanding dengannya serta akan ditimpakan kehinaan; tiadalah bagi mereka pelindung dari (seksa) Allah; muka mereka (hitam legam) seolah-olahnya ditutup dengan beberapa bahagian (yang gelap-gelita) dari malam yang gelap-gelita. Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Yunus:27)

Pada kurniaan indah-Nya,
hati mengenal makna cinta…
namun akal leka pada kiasan disebaliknya…
jiwa dipandu berpaksikan nafsu…
lupa kurniaan itu kan sirna jua bilamana DIA mengkehendakinya…
Dan itulah hakikat yang pasti…
daerah asing yang ku redahi itu memarut kecewa yang hampir membunuh jiwa…
menghumban aku dalam lautan kesal yang tak berpenghujung…
tenggelam dalam lautan duka yang sia-sia…
tiada yang ku temui melainkan kecewa…

Ya Allah…
Segala ketentuan ku serahkan pada-Mu…
biarlah masa yang berbicara,
tak akan aku berpaling pada yang menunggu dan mengugat,
sapanya meletihkan diri,
hadirnya mengundang penat,
cintanya hanya bersalut segunung kepalsuan dan kepura-puraan…
Sesungguhnya hanya pada-Mu terletak selautan kebahagiaan yang hakiki…

Ya Allah, Ya Tuhan ku…semakin jauh diriku dengan-Mu, semakin dekat pula Kau menghampiriku. Betapa kerdilnya diriku dihadapan-Mu… Keindahan fatamorgana mengalpakan aku pada bayangan mentari, aku tenggelam dengan dusta dunia yang penuh kepura-puraan. Telah aku redahi daerah cinta yang lahir dari wardah kealpaan…namun tiada yang kutemui melainkan hanya sebuah kekecewaan. Di kala dinihari, aku menyingkap tirai hatiku Ya Rabbi…untuk aku intai keampunan dari-Mu. Jernih embun kasih sayang-Mu aku dambakan, moga tiap jejakku yang bertapakkan debu-debu kejahilan dapat aku jirus dengan madu keimanan-Mu…

Andainya dihitung amalan-amalanku…belum pasti dapat aku hampiri gerbang syurga-Mu. Ya Allah, tak termampu aku sujud untuk menghapuskan dosa-dosa yang lalu, dan tak ternilai air mataku dengan permata yang bisa memadamkan api neraka-Mu…

Ya Allah Ya Tuhanku… di hamparan ini aku meminta kepada-Mu Tuhan Yang Maha Esa, terimalah taubat hambamu ini yang penuh dengan debu dosa-dosa lalu. Aku akui kelemahan diri, aku insafi kekurangan ini, dan aku menyesali kejahilan-kejahilanku…terimalah taubatku Ya Allah…

Telah aku rasai derita jiwa dan perasaan kerana hilang dari jalan menuju redha-Mu… Ya Allah, aku mendambakan sebutir hakikat untuk aku semai menjadi sepohon makri’fat…moga dapat aku berteduh dipohon rendang kasihmu. Ya Allah, Ya Tuhanku…Engkau teguhkanlah pendirianku, Engkau tetapkanlah keimananku dan jauhkan aku dari hidup yang sia-sia…

Lestarikan wadiku, dan leraikan aku dari pautan nafsu moga dedebu dosa yang mengaburkan hatiku dapat disinari dengan cahaya keimanan-Mu… Terima kasih tak terhingga atas air mata tarbiyah ini… Moga diriku dapat meraih indahnya khusnul khatimah-Mu…

“Jagalah (perintah) Allah s.w.t, maka Dia akan menjagamu; jagalah (kehormatan) Allah s.w.t, nescaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu; Bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya semata; Bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah semata." – [H.r Tirmidzi]


Dazz-

No comments:

Post a Comment