Monday, July 11, 2011

Shalatulail Dinihari~




Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Tikar usang di hampar girang,
Pakaian lusuh itu di sarung megah,
Segenap urat saraf melonjak girang,
Rindu yang di simpan tak lagi tertahan…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Dada yang sesak kembali lengang,
Jasad yang hanyut kembali timbul,
Fikiran yang berserabut kembali tenang,
Jiwa yang rapuh kembali kental…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Alunan Kalamullah intim di bibir,
Membasuh hati yang mula berdebu,
Zikir dan tasbih bertahmid di segenap saraf,
Mengasuh hati yang kian keras…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Di kala dinihari ini,
ku bangkit dari lenanya nyenyak,
nyamannya gebar,
empuknya tilam,
demi membuktikan ketaataanku pada mu Ya Rabbi…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Alangkah indahnya shalatulail pada-Mu Ya Allah…
Akan terhindarnya diri ini dari segala penyakit,
Pada raut wajah hina ini lahirnya cahaya takwa,
Pada diri yang kerdil ini di kasihi sekalian mukmin,
Di ulas bibir ini bicaranya mengandungi hikmah,
Pada kehidupan ini di hadiahkan kekuatan dan limpahan rezeki…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Tikanya jasad bercerai dari badan,
Perjalanan di teruskan ke daerah barzakh,
Sebelum pulang ke kampung Mahsyar…
Keindahan shalatulail-Mu,
Membangkitkan diri hina ini dari empuknya tanah dengan wajah berseri-seri,
Jalanan hisab yang panjang itu dipermudahkan,
Sirat al-Mustaqim direntasi bak kilat,
Pada tangan kanan itu,
Kitab amalan diserahkan.
Tak kan pernah ternilai dengan air mata ku ini dengan limpahan kurniaan Mu Ya Rabbi…

Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Kisah imarah kekasih-Mu diteladani,
Walau di gelar Sayyid al-Mursalin,
Walau di jamin syurga,
Walau tumit kaki pecah merekah,
SHALATULAIL tetap istiqamah…
Getar hati ini akan sifat tawadduk kekasih-Mu, Ya Rabbi…

Dosa-dosa ku tak terhitung bagai dedebu,
Amal taubat pun tak mampu menampung…
Walau setiap hari sisa umur makin berkurang, 
Namun noda dosa makin bertambah menyeliputi diri…

Diri ini sedar Ya Ilahi…
Hina menyelubungi,
Jahil masih menyelimuti,
Nafsu kerap tersungkur kalah,
Noda dosa makin bertambah,
Bumi makin nazak,
Kiamat makin mendekat…

Dan…
Saat itu aku nanti,
Saat itu aku tunggu,
Saat itu aku cari,
Saat itu aku rindu…

Hanya shalatulail-Mu pengubat jiwa yang makin lumpuh…

Kini…
Tilam empuk itu tak lagi tersenyum megah,
Saat hamparan lusuh yang menjadi pengalas…
Bantal nyaman itu tak lagi berteriak megah,
Saat lengan yang menjadi alas…
Gebar nyaman itu tak lagi menonjol megah,
Saat pelikat usang yang membaluti tubuh…
Tinggallah keduniaan,
Tinggallah kemewahan…
Akhirat menanti,
Kerana janji-Nya pasti!

Selagi nadi berdenyut,
Selagi nyawa berhembus,
Walau langkah kaki mulai sumbang,
Walau mata mulai samar,
Walau telinga kedengaran rusuh,
SHALATULAIL tetap istiqamah dengan izin mu Ya Ilahi…

"Wahai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu beri peringatan! dan agungkanlah Tuhan-mu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,"  (Al-Muddatstsir 74:1-5)


No comments:

Post a Comment