Saturday, October 11, 2014

Hidup Sebelum Adanya Kehidupan







Ada perkara yang kita tak mahu terjadi tetapi harus menerima. Ada perkara yang kita tak mahu tahu tetapi harus belajar. Dan ada perkara yang kita tak mampu kehilangan tetapi harus melepaskan.




“You should spend your time.”

Kening belah kanan spontan terangkat seinci. “Huh?”

Tudung yang siap dililit dipin kemas. “Enjoy your life.” Wedges dirak kasut ditarik keluar. “Tak ke mana pun kalau nak hadap kerja tu je.”

Kening yang terangkat perlahan turun; kembali terletak di tempat asalnya. Buku ditangan direnung sejenak. Memaku akal mencerna bait bicara yang menghantar bingung dibenak.

“Apa yang tak kena?” Bibir lancang memuntahkan kata tanpa sempat akal menegah sabar.

Tangan yang tengah menyarungkan wedges ke kaki terhenti. Badan kembali tegak.  Kepala dikalih tepat ke susuk tubuh yang setia menanti dengan pandangan yang kosong. ‘Bingung mungkin?’

“You don’t have a life.”

“What do you mean by ‘no life’?”

“Yeah, you kerja, balik masak, reading, writing, the same routine..tak boring eh?” Bahu terjungkit bersama lontaran kata yang terlontar tanpa ada rasa salah. Sinis.

“..And that’s how I live my life.” Tenang.

“Pardon me?” Mata dijegil luas.

“You heard me.” Datar.

“Come on lah Ed..you make me sick!” Tubuh dipeluk silang dengan kedua-dua belah tangan.

“Then what do you expect from me?” Kening mula bertaut. Nada suara ditekan. Serius.

“Enjoy. Hangout. Shopping.” Bibir yang perlahan mengoyak senyum memeta emosi empunya badan. “..ermm before that, I suggest you to spend your time using the whatsapp, instagram, or facebook coz it will help you making a friends.

Dada buku yang separuh terbahagi ditutup perlahan.“Zaman tu dah berlalu Qis..” Bibir mengoyak senyuman. “..sekarang ni bukan lagi zaman remaja yang keluar ayat ikut sedap rasa, yang buat gila demi layan stress, yang faham hubungan tu macam pilih baju kat shopping mall. Sekarang ni zaman kematangan. Yang terbatas dek dinding pemisah yang menjadikan lelaki dan perempuan itu sebenarnya lawan. Ada tanggungjawab yang tergalas menuntut sabar dalam menggali ilmu; belajar menjadi anak yang baik, belajar menjadi isteri yang memaknakan, belajar menjadi ibu yang meneladani, belajar menjadi jiran yang menyenangkan, belajar menjadi hamba yang sentiasa menagih redha dan rahmat NYA.”

Nafas dihela berat. Dada yang ketat perlahan bernafas.

“Ada benda yang boleh ikut gelak; tapi berpada. Sampai masa diri kena adjust; jadi matang. Nak ubah diri tak mudah. Semua orang ada cita-cita, impikan pasangan yang baik soleh dan solehah, angankan anak-anak yang berpekerti, bijak, dan soleh. Nak bina keluarga yang penuh indah bak lukisan yang dilakar tangan sendiri. Tak mustahil. Tapi agak impossible untuk sebuah cita cita menjadi kenyataan saat tangan hanya diriba menanti mentari tenggelam diufuk barat dengan harapan.”

Wajah yang tertunduk menekur lantai dikalih pandang.

“Macam mana seorang ibu mengharapkan anak yang rajin mengaji sedangkan si ibu sendiri jarang jarang kedengaran lantunannya? Adakah salah sang anak bila dirotan kerana meninggalkan solat sedang sang ayah rukuk dan sujudnya jarang benar kelihatan?”

Tubuh yang kaku diarak mendung dalam benak yang bercampur gaul dirapati.

“Qis..tak salah sesekali nak luang masa buat apa yang kita suka. Tapi tetap kena letakkan noktah.”

“Ed…”

Bahu yang turun naik menahan tangis diusap lembut. “Kalau kita tak sanggup berkorban hari ini, tak mungkin hasil tuaian kita akan tumbuh subur dan mekar. Hidup sebelum adanya kehidupan ibarat sang petani yang membanting keringat menggali, belajar, untuk menjadikan tanah yang gersang itu gembur dan subur agar akar yang ditanam tumbuh dan membesar; tak goyah ditiup angin dan tak terkulai layu saat dihinggap ujian penyakit.”

“I’m sorry..”

Angguk. Senyum. “Kita kena belajar menjadi matang untuk menggerakkan jasad dan anggota mencari. Belajar mengendali sebelum mengemudi. Untuk hidup sebelum adanya kehidupan.”

“Thanks Ed..”

“Your welcome.”


Learned to be matured behind what you lost. Allah didn’t rid-of without replace it with a better surrogate.






©Dazz

Thursday, October 9, 2014

Pursuing For The Future






Beginning.

Catching in the middle of the traffic, for second I realize to spent considering how the world could be different in five or ten years, is like as opposed to worrying about winning in the last stand of journey or how to respond towards the King of our Creator.

Sitting the day doing all the business, I lift my gaze out of the rut and consider what’s out there on the horizon; have I been spent on my external rather than internal? What a percentage of my improvement efforts (quality time-based, cycle routine reduction, etc.) to be presented on Him on the Day of Judgment? Do I devote more benefits for others or just prolonging my property?

For the time being, yet it’s not about the car you used, the house you bought, the children that you have; it’s about how we understand and capable to live the world in the right track.


A failure is not always a mistake; the real mistake is to stop trying.



Balance between hope and anxiety.

Life depends upon the quality of your thoughts; negative that nearer you with the broken-down emotions and positive that drive you far strong, enough to break the border of your ability.

Walking the day, we have been separate between the gap of hope and anxiety; resulting who we are right now. Balancing between the hope and anxiety will help self to be in the right track; as hope will light the day in charging the positive mind and anxiety will lose your ability to change and move forward.

In balancing the hope and anxiety, you must not afraid to be fall. Hope didn’t always come true as what you wish; as your anxiety sometimes didn’t overcast you but come-up to teach what is life. So, do balance the hope and anxiety to be on their right place, as they don’t take you off whereas they were a right teacher to lean on.

If you fall, do get up and walk again. If you hurt, do smile and rub the wound. If you feel the world didn’t belongs to you, ask yourself to be thankful for every moment of happiness that comes in your way.

Change your thoughts; then your world will be changed.



Strangers.

Sipping the coffee in the corner of the street, the step doesn’t sound similar. People come and go; differ. For the first time being in the new land, I get used on the word of stranger. A lot of story to be learn. A part of way to makes a changed.

Stranger. It happen when unknown people come knock your life, mark the footprint, say a few things, and suddenly gone. Leave you in confusion and sometime leave the scar that unexplained. Trying to avoid the stranger still never can complete your day, either avoid your pain or wound your scar. It will happen. Indeed, it will always live coz I am your stranger, and you are my stranger. Till you and I live the life, here the stranger still there.

I sip this bitter coffee thoroughly, so that I hope it will be heal with a little sugar later. As I began to hope, I start to believe. Believe the stranger; is a part of me. They didn’t come to knock my life because they want, but because HE is regulated.

Now, a story name ‘Stranger’ become a guider in my journey. It uses me to paint a smile in tears, wipe the longing with the memory, and teach me how to dance in heavy rain.

For the dark side color of the stranger, take the color pencils (dua’a, tolerance, etc.) and varnish it gently (advise, counsel) till it stained. And for the rest leave it to Him. We can’t change people, but we do can change our self. Take the deficiency to be an advantage. And for the time that a stranger didn’t come to be meaningful to you, they would leave soon; mark the footprint to be lesson.


You cannot stop walking just because people don’t like you.




Full stop.

Learn to write, there are parts where you have put a full stop. Moving your day, you should know when to put a full stop. Coz it teaches you about the limit; how far you can go and when you need to stop.

In every your steps, words, thinking, and behave mind to put the full stop in the right place. Even it can't bail you from doing mistakes; at least it will prevent you from broken when you’re bend.


To the world you might be one person; but to one person you might be the world.







©Dazz


Saturday, September 27, 2014

Sampai Masa Kita Pulang






Kau berlari dikala aku menjauh.Kita selari dalam mencipta jarak dan ruang.


Khilaf. Membawa langkah kaki yang sumbang berlari ditengah lebatnya hujan. Dilatari melodi sendu yang ada dalam tiada. Nyanyian pengharapan dalam asa yang kian tenggelam.

Suara yang berkumandang megah memenuhi awan, mengajak setiap yang bersyahadah menemui Penciptanya. Rentak kaki senada mengatur langkah. Tenang dalam rusuh. Hanya Dia Yang Maha Mengerti.


Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut kepada musuh, rasa lapar, kekurangan harta, kekurangan nyawa, dan kekurangan buah-buahan. Dan berilah khabar gembira kepada orang yang SABAR.
[2:155]


Bersama renta yang khusyuk dalam menyelami taat sang hamba, air mata yang mengalir dibiar sepi tak lagi bertemankan sendu. ‘Sabar Ir..’ Kala dahi mencium lantai sejadah, khilaf terlayar bagai tayangan. ‘Allah..’

Telekung ditarik keluar. Getar tubuh yang ditahan tak lagi tertahan. Birai katil dilabuh duduk. Tangis yang tersimpan perlahan berlagu, memecah sunyinya ruang. ‘Illahi..terima kasih..’


Saat khilaf terlakar jari mula tegak menunding; meletak salah. Lupa untuk membawa diri bersimpuh dalam duduk yang bernama muhasabah.


Kepala didongak ke langit. ‘Tarbiyyah Mu menuntun ku Ya Rabb. Dalam pahit yang Kau gaul menjadi manis. Walau kerap kali aku tersungkur dalam lautan ‘tanya’ yang membawa ku jauh dari pelabuhan sabar.’

Nafas dihela. Dalam.

‘Tuhan, dalam perjalanan yang ku susuri lelahnya menyedarkan aku rentas yang dilalui makin jauh. Jauh yang kadang terasa dekat; saat aku bagaikan tenat menitinya sendiri. Dan mendakap Mu erat ke dada, getarnya menghidupkan aku. Menyambung larian yang terhenti. Menggali manis dalam pahit yang terhidang..’

Langit yang bagaikan tersenyum indah, mengoyak senyuman diulas bibir.

‘Tuhan, sering aku rapuh meniti takdir yang Kau lukis indah dikanvas hidupku. Dan saat telapak tangan ku tadah ke langit, hanya secebis kekuatanMu ku pohon Ya Illahi..saat aku hanya perlukan kekuatan itu untuk meniti takdir yang Kau lukis menterjemah keindahannya disebalik calitan hitam kelabu yang sering membuat ku rebah dipertengahan jalan; lupa Kau ada menemani..’

Tangis yang perlahan sepi; terpujuk. Dada yang kian tenang disentuh lembut. ‘Moga disetiap khilaf yang datang, aku terdidik. Terima kasih Tuhan..’  “Irsya..bernafaslah dalam nadi hamba yang tak henti belajar dalam mencari RedhaNya.”


Ada luka yang tergumpal
Ada tangis yang terhenyak
Ada pilihan untuk berteriak
Ada sebab untuk tinggal diam
Laut tak selalunya bergelora
Tika hujan tak selalunya menyanyikan lagu sendu
Selagi matahari tetap muncul menyinari
JanjiNya pasti!
Buat hati hati yang meyakini.



Skrin yang kosong ditatap bagai ada bicara. Tangan perlahan dibawa lari didada keyboard.

Khilaf. Seringkali dijatuh sebab yang membawa duka dan air mata. Seringkali juga menjadi sebab yang merentakkan sebuah hubungan.

Dan khilaf dalam makna seorang Irsya diterjemah dalam dua kata; jalan pulang. Saat ketika tingginya kepala didongak ke langit khilaf datang, mengajar untuk sesekali tunduk ke tanah; membawa diri ke jalan pulang. Saat ketika jalan yang dilalui terasa lurus padahal sebenarnya kian bengkok, dan sekali lagi khilaf datang menuntun ke jalan pulang. Dalamnya makna khilaf yang mengubah kaca mata seorang yang bernama Irsya.

Dalam susunan langkah meniti perjalanan yang kelam tak terpeta yang kosong tak bertanda, hati sering lupa adanya jalan pulang; yang menjulang sebenarnya kemenangan setelah semusim lelah yang ditempuh. Dan khilaf datang, mengajar, menimbang, merenung, menyelami; takdir yang terlukis itu bukan hanya sekadar palitan tawa dan tangis, kecewa dan pasrah, buntu dan asa, lemah dan tewas.

Dijejak insan yang bernama Irsya, mengenggam takdir dalam palitan indah tak semudah mewarna kertas kosong menjadi sang pelangi yang cantik berwarna warni. Ada pengorbanan yang memeluk bisu agar tak rebah pada sang tewas. Ada air mata yang melunturkan asa dalam genggaman; membawa kaki berlari kian menjauh. Ada kecewa yang menyanyi; menghukum dalam buntu yang terbenteng dek kurangnya sabar.


Dan bangkit tanpa mengakui khilaf bagaikan si kulit yang lupa untuk berterima kasih pada sang kacang.


Saat khilafmu aku nampak; aku terbuta akan hakikat lorong yang membawa khilaf itu adalah aku. Saat khilafmu merenta dalam ke hatiku, aku lupa garit garit luka yang aku tinggalkan merenta hatimu tanpa maaf. Untuk setiap khilaf dan goresan luka itu yang kini membawa aku ke jalan pulang; maafkan aku..


Kau bagaikan kompas yang menyedarkan aku arah jalan pulang itu mesti dijejaki saat ia tak semudah jalanan kehidupan.


Rapuh meniti khilaf dalam titian usia yang kian usang, sabarmu mengajar aku erti sayang. Melebur amarah dan ego dalam simpuhan muhasabah yang menjadikan aku menunduk ke tanah; bersyukur.


Sampai masa kita pulang.


Pada ruang yang masih tersisa, aku melukis sang pelangi untuk aku warnakan dengan calitan warna warni agar keindahannya akan menuntun hati saat kaki mula berlari sumbang, menongkah langkah saat asa kian tenggelam, mengingatkan diri yang seringkali rapuh, ada jalan pulang yang harus aku tempuh.

Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadi penawar saat diri ini mengguris hati mu umi dan abah. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadi pengubat saat kau lelah meneladani aku dijalanNya abang. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu membuatkan aku teguh menuntun amanatMu menjadi serikandi yang Kau redhai. Pada pelangi yang aku warnakan moga mampu menjadikan aku setia saat aku teruji dek ombak yang sesekali memukul ketenangan pantai. Kerana ku tahu Kau bersamaku..

Sampai masa kita pulang, moga aku lah bidadarimu disana nanti. InsyaAllah..


Sitting in the dark
You’re the answer when I prayed
All I want is to hold you forever
All I need is you more ever day

You’re the reason
My faith in tomorrow
A distant horizon
That I miss a lot

You’re the first
You’re the last
Te amo’ SJM..




©Dazz